(Kis 1:15-17, 21-26; Mzm 1; 1 Yoh 5:9-13; Yoh 17:6-19)
Bagi bangsa Israel, nama bukanlah sekadar sebutan, panggilan atau tanda pengenal; tetapi menyatakan sifat, karakter atau kepribadian yang memilikinya (bdk 1 Sam 25:25). Setiap nama orang Israel mengandung makna dan pesan pengalaman iman yang sangat khusus. Lalu bagaimana dengan nama Ucok, Slamet, Kanti, Rina, Sipayung atau Horas? Apa maknanya? Soal ini tanyalah pada empunya nama! Yang pasti orangtua memberi nama sesuai pengalaman dan harapan yang tersirat di dalam hati mereka.
Demikian pula sebutan dan nama Allah selalu menggambarkan jatidiri Allah sendiri. Sehingga "menguduskan nama Allah" selalu berarti memuliakan dan meninggikan jatidiri Allah. Itulah sebabnya setiap nabi selalu mengajak umat untuk senantiasa menguduskan nama Allah; bukan saja dengan ucapan, tetapi terlebih dengan hati dan hidup kudus. Tidak cukup dengan berseru: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan!" (bdk Yes 6:3; Why 4:8), melainkan dengan berbuat baik dalam hidup sehari-hari (bdk Mat 7:21; 2 Tes 3:13; Yak 2:14).
Konon Tolstoy, penulis terkenal Rusia, memiliki sebuah pengalaman kecil yang menarik. Suatu hari seorang pengemis menadahkan tangan kepadanya mengharap uang recehan. Setelah Tolstoy merogoh saku ternyata ia tidak membawa uang sama sekali. Maka ia berkata kepada pengemis itu: “Jangan marah Saudara, Saya sama sekali tidak membawa uang untuk Saudara.” Wajah pengemis itu sangat berseri ketika berkata: “Tapi bapak sudah panggil Saudara kepada Saya, itu adalah hadiah yang sangat besar!”.
Kita memang tidak tahu apakah sikap baik hati kedua orang di atas karena imannya kepada Tuhan Yesus. Namun rasanya tidak banyak orang seperti mereka; dengan kepedulian, keramahan, keterbukaan dan ketulusan berkata sebagai bentuk penghargaan. Kalau kita tersadar, malah banyak orang yang lama dekat dengan Tuhan, namun tidak memiliki sikap hati seperti itu. Tengok Yudas. Setiap hari hidup bersama Tuhan Yesus. Melihat mukjizat-Nya dengan mata kepala sendiri. Namun Yudas tidak banyak berubah. Hatinya tetap keras. Pikirannya tetap jahat. Hal ini sama fatalnya dengan orang yang mengaku telah mengenal Tuhan, namun suka melakukan kekejian layaknya teroris. Inikah jalan menguduskan nama Allah?
Mari belajar pada Yesus. Dari sudut insani, Kristus telah mempermuliakan nama Allah secara sempurna dan total, yaitu dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan Allah kepada-Nya. Di Yoh 17:4, Tuhan Yesus berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya”. Sikap pengudusan nama Allah senantiasa diwujudkan dalam karya yang mempermuliakan Allah. Sebagai manusia, Yesus berkarya dan karya-Nya itu mampu memulihkan hubungan Allah dengan manusia lewat pengurbanan dan kematian-Nya.
Dari sudut ilahi, Kristus adalah satu-satunya pribadi ilahi yang ditetapkan Allah sebagai penyata nama Allah. Manakala Kristus disebut sebagai penyata nama allah, maka maksudnya adalah bahwa Tuhan Yesus adalah penyata diri Allah. Melalui hidup dan karyanya, manusia dapat melihat kehadiran Sang “YHWH”. Di Yoh. 14:7, Tuhan Yesus berkata: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia". Kristus menyatakan ke-diri-an Allah melalui seluruh sifat, karakter, rencana dan karyanya. Pada saat seseorang melihat Yesus, maka pada saat itu juga dia telah melihat Allah Pengasih.
Bagaimana dengan kita? Saudara, Allah itu kudus, sehingga kita dipanggil untuk hidup kudus di hadapan-Nya. Tanpa kekudusan, maka kita tidak diperkenankan untuk memandang dan berjumpa dengan Allah. Di Mat 5:8, Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”. Karena itu panggilan setiap umat percaya adalah terus-menerus membangun iman dan kasihnya di atas kekudusan.
Kekudusan selalu bersifat membebaskan dan menyelamatkan, melalui tindakan yang adil, benar dan dalam perbuatan-perbuatan baik. Menurut Mzm 1, seyogyanya kita bagaikan pohon yang ditanam dekat Sumber Air Hidup, yang selalu menghasilkan buah-buah manis untuk dinikmati semua orang. Berjuanglah. Immanuel. Amin
No comments:
Post a Comment