(Kej 11:1-9; Kis 2:1-7)
Pengantar
Dalam ilmu pembangunan jemaat, salah satu penentu hidup-mati dan bangun-runtuhnya sebuah jemaat atau komunitas adalah iklimnya. Iklim ini adalah kondisi hubungan yang terjalin dan pola komunikasi yang tercipta di dalam sebuah komunitas. Kalau iklimnya persekutuannya panas, maka orang yang berada di dalamnya akan merasa gerah dan selalu ingin beranjak keluar. Kalau mendung, orang akan segan dan malas untuk beraktivitas di dalamnya. Kalau iklimnya gelap dan dingin, orang akan sulit bertumbuh, bergerak, berkarya dan melayani.
Akan tetapi, kalau iklimnya terang dan hangat, semua orang akan merasa nyaman, terbuka dan bebas berekspresi. Kalau hubungan yang terjalin hangat dan komunikasi terbuka antar anggota, semua orang akan senang berkarya dan melayani di dalam komunitas tersebut. Saat ini gereja, perusahaan ataupun pemerintahan membutuhkan komunikator-komunikator ulung sebagai pencair suasana, pembangun jembatan relasi, pencipta kekeluargaan dan penyampai pesan yang benar dan jitu. Kita dapat mengamati bahwa yang ‘pemilik’ dunia selalu orang-orang yang menguasai informasi dan pola-pola komunikasi yang relevan. Untuk menjadi pejabat tidak lagi susah-susah, tinggal membangun opini masyarakat yang baik lewat komunikasi yang baik dan ‘gencar’, dijamin pada pemilu yang akan datang pasti menang.
Dua Hasil Komunikasi
Komunikasi yang baik akan membangun dan mengembangkan keutuhan dan kesatuan komunitas. Komunikasi dapat mempertemukan orang, opini atau segala latar belakang yang berbeda-beda. Komunikasi yang baik tidak saja mempertemukan, tetapi terlebih mampu menghidupkan pertemuan itu dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai bersama. Namun pada sisi lain, harus juga disadari bahwa komunikasi yang buruk dapat mengakibatkan kebalikannya. Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik dapat menciptakan ketegangan, pertikaian bahkan perpecahan. Kesalahpahaman selalu disebabkan oleh pola pengkomunikasian pesan yang tidak baik/tepat. Seringkali masalah muncul bukan karena beda pendapat, tetapi karena cara penyampaian dan penanggapan pesan yang tidak jitu. Pertikaian suami-istri disebabkan ketertutupan komunikasi. Ribut orangtua-anak disebabkan kekakuan bahasa. Kehancuran perusahaan disebabkan arus komunikasi yang berantakan. Demikian pula halnya di gereja. Akibatnya, tidak ada kesepahaman pengertian, malah menimbulkan ketegangan dan ketersinggungan yang membangkitkan emosi.
Komunikasi ala Babel
Kalau kita amati dengan baik kisah orang Babel dalam Kejadian 11di atas, di sana akan kita temukan pola komunikasi yang nggak nyambung. Komunikasi acak-acakan. Satu dengan yang lain tidak saling mengerti. Orang tidak memahami apa yang didengar dari kawan bicara. Setiap orang berbicara menurut maunya sendiri. Mereka tidak mencoba saling memahami. Tidak saling membuka diri. Akibatnya muncul ketegangan, kesabaran habis, emosi meledak, persatuan hilang dan perpisahan rasanya menjadi pilihan paling tepat.
Mengapa ini bisa terjadi? Ketika Tuhan melihat kota itu, Ia menemukan penduduknya dirasuk kesombongan dan keangkuhan. Mereka berambisi membangun menara tertinggi di dunia (mungkin mengalahkan menara kembarnya Malaysia) di mana mereka mengira dapat memanah matahari dari puncaknya. Hati manusia penuh ambisi, nafsu dan sempitnya egoisme diri. Kondisi ini tentu saja tidak dikenan Tuhan, sehingga harus menghentikan rencana angkuh mereka. Tuhan pintar. Ia tahu kelemahan manusia: komunikasi. Kacaukan saja komunikasi pekerjanya, maka mereka tidak akan saling memahami, sehingga menghentikan pembangunan menara. Kacaukan saja komunikasi rakyatnya, mereka akan saling menyalahkan dan membenci. Dengan demikian nafsu jahat kota itu tidak akan berlanjut lagi.
Kalau kita menyadari ini dengan baik, maka ada aplikasi menarik bagi kita. Kalau persekutuan kita diisi oleh ambisi dan kepentingan tiap-tiap orang, maka itulah awal kehancuran kita. Ambisi membuat tiap pribadi mengutamakan suara hati sendiri, memaksakan kehendak dan membatasi orang lain. Situasi tersebut membuat kita kehilangan kekompakan, meretas ketertutupan dan melahirkan ketegangan. Komunikasi yang tidak baik itulah awal kebinasaan persekutuan kita.
Komunikasi = Kabar Baik
Secara teologis, komunikasi harus dilihat sebagai upaya penyampaian kabar baik kepada semua orang. Isi komunikasi haruslah berita Injil yang mampu menghibur yang berduka, menguatkan yang lemah dan memotivasi yang putus asa. Oleh karena itu, komunikasi yang mesti dibangun adalah komunikasi yang memahami dan memberi pemahaman. Komunikasi itu mesti memahami konteks hidup orang lain dan strategi penyampaian pesan yang tetap. Pesan yang disampaikan harus dipahami oleh orang lain dan relevan dengan kebutuhan mereka. Untuk itu, kita harus memperhatikan metodenya dengan baik: pilihan kata, suasana dan waktu penyampaian berita.
Komunikasi itu juga harus menyampaikan nilai-nilai kebenaran yang memberi penyadaran baru. Komunikasi mesti membangun kesadaran diri dan kelompok.
Komunikasi ala Pentakosta
Jikalau komunikasi ala Babel menimbulkan kekacauan dan perpecahan, maka komunikasi ala Pentakosta melahirkan sebaliknya. Dalam kisah Pentakosta kita temukan bahwa semua murid berkumpul di satu tempat dan mengalami sukacita bersama. Mereka memang mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang berbeda-beda, tetapi itu tidak lantas mengacaukan mereka. Mereka tetap sehati. Bahkan orang lain yang melihatnya juga tercengang-cengang, karena mereka mengerti pesan yang disampaikan dalam bahasa mereka sendiri.
Komunikasi Pentakosta ini sungguh-sungguh menumbuhkan kesatuan, pengertian, mendatangkan damai sejahtera dan membuka penerimaan bagi orang-orang baru. Komunikasi para murid sungguh telah membongkar tembok-tembok pemisah di antara mereka ataupun ‘kelompok dalam’ dengan ‘kelompok luar’. Pada waktu yang sama, komunikasi yang baik itu juga telah membangun jembatan penyatu antar tiap-tiap orang, sehingga terbuka gerbang seluas-luasnya untuk siapapun yang bermaksud untuk masuk ke dalamnya.
Menurut kesaksian dokter Lukas, rahasia terciptanya komunikasi yang baik itu adalah karena tiap-tiap orang dikuasai oleh Roh Kudus. Ketika Roh Kudus turun ke atas mereka, maka Roh itu juga berkuasa atas diri mereka. Dengan demikian, egoisme, nafsu, ambisi dan pementingan diri sendiri menjadi lenyap. Roh Kudus menyatukan hati mereka dan menumbuhkan sukacita besar. Perbedaan tidak lagi menjadi pembatas hubungan, melainkan kekayaan yang harus diberdayakan. Roh Kudus memampukan setiap orang menerima yang lain dengan sukacita, membagi kasih dengan tulus dan menyambut orang asing dengan lapang dada. Bahkan berita berita Injil mesti disampaikan kepada semua orang dengan cara komunikasi yang dapat dimengerti, yakni menggunakan bahasa masing-masing penerima. Dengan demikian, orang-orang lain juga menerima keselamatan dan damai sejahtera hidup dalam Kristus.
Panggilan
Saudara, paradigma berkomunikasi yang baru ini akan menuntun kita pada sebuah perubahan hidup, dengan iklim persekutuan yang hangat dan terang. Di dalamnya semua orang memiliki ruang yang cukup untuk bertumbuh, disambut dengan sukacita dan melayani dengan penuh gairah. Untuk itu, saat ini kita dipanggil untuk menjadi komunikator-komunikator Allah. Menjadi juru bicara Tuhan. Tugas kita ialah memberitakan Injil Allah kepada semua orang di sekitar kita:
Pembawa damai, di tengah kehidupan yang sarat dengan ketegangan dan pertengkaran
Pembawa terang,
di tengah kehidupan yang penuh kegelapan dan kehilafan hati
Pembawa pengampunan, di tengah kehidupan yang diwarnai nafsu balas dendam
No comments:
Post a Comment