(Kis 10:44-48; Yoh 15:9-17)
Pembukaan
Sebenarnya ada ratusan buku dan film yang telah mengupas betapa indahnya memiliki sahabat sejati ataupun betapa sakitnya hati dikhianati orang kepercayaan sendiri. Seperti warna-warni persahabatan yang disajikan film remaja “kepompong”. Dalam lirik soundtracknya saja sudah kaya pesan “Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. Persahabatan itu menakjubkan. Persahabatan itu menutupi kejijikan, tidak suka mengumbar kejelekan, tetapi melahirkan segala kebaikan hidup, menjadikan hidup lebih indah dan lebih berharga.
Pola Persahabatan Manusia
Tetapi, ternyata mencari sahabat sejati bukan perkara mudah. Sangat sulit. Mengapa? Karena setiap orang punya kriteria dan syaratnya tersendiri. Jangan hitam, jangan putih, mesti punya mobil, mesti cantik, tampan, berkaki empat, sederajat… Mesti ini…. Mesti begitu… jangan begini… Kalau dilist, bisa melebihi panjangnya daftar belanjaan ke pasar. Itulah sebabnya jumlah sahabat kita sangat sedikit dibanding banyaknya teman yang kita miliki. Kasih yang dimiliki manusia terlalu memilih-milih. Dengan kata lain kita terlalu pilih kasih. Rasanya kita perlu pencerahan: Kalau kasih sudah memilih-milih, apakah itu masih kasih namanya?
Tetapi, berbanding terbalik dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak pernah membatasi diri dalam bersahabat. Tidak pernah pasang label-label syarat. Tidak pernah menolak yang mendekat, tidak pernah menghalangi siapapun yang mau bersahabat, tidak mesti seorang pejabat, dan Dia selalu menunjukkan kasih seorang sahabat kepada siapapun yang ditemuinya. Bahkan menurut pengalaman Petrus, Kristus tidak saja mau bersahabat dengan para murid, tetapi juga dengan semua orang, termasuk orang-orang asing. Bangsa-bangsa lain yang dianggap kafir dan yang sering tidak mauk hitungan. Namun mereka juga dilayakkan kasih dan curahan Roh Kehidupan.
Biasanya prinsip manusia modern berbunyi begini: Di dunia ini tidak ada teman sejati, yang ada adalah kepentingan sejati. Ngeri yach... Itulah sebabnya dunia politik tidak pernah tidur, selalu memanas dan penuh gejolak. Demi kepentingan, persahabatan bisa hancur. Partai terbagi tiga. Koalisi berantakan. Perusahaan seperti mainan yang diperebutkan antar saudara. Demi kepentingan gereja juga bisa ribut. Kawan menikam dari belakang. Saling menghujat. Dan sebagainya. Inilah yang terjadi kalau kita kehilangan kasih Allah, tak ada kasih seorang sahabat.
Bunda Teresa pernah berkata, “Penyakit yang paling parah di dunia ini bukanlah kusta, kanker, jantung ataupun typhus, melainkan hidup tanpa kasih.” Penyakit yang paling menyakitkan bukanlah penyakit fisik, melainkan penyakit hati yang hampa kasih sayang. Pada jadinya rumah tangga tanpa kasih, sekolah tanpa kasih dan gereja tanpa kasih? Hidup tanpa kasih ibarat dunia tanpa mentari, gelap gulita, hampa dan tidak berwarna. Tetapi dengan kasih, di rumah sakit orang menemukan arti hidup. Di panti, dengan kasih panti asuhan melebihi damainya istana raja.
Allah Bersahabat dengan Manusia
Sebuah penerbitan di Inggris pernah mengadakan sayembara definisi terbaik tentang persahabatan. Banyak orang yang ikut. Ada yang mengatakan sahabat adalah orang yang selalu mengerti kita. Ada juga yang mendefinisikan sahabat adalah orang yang menambah sukacita kita dan membagi kesedihan kita. Tetapi definisi yang memenangkan sayembara itu berbunyi sahabat adalah seseorang yang mendekat di saat dunia menjauh darimu!
Pengertian ini begitu mendalam bahwa kasih seorang sahabat tidak saja nampak di saat kita bersukacita, tetapi juga saat dunia terasa menimpa kita. Bukan kita senang dia datang, kita susah dia pergi. Tetapi justru dia mendekat di kala dunia sedang menjauhi kita. Menurut Ams 17:17, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Seorang sahabat peduli setiap saat. Dia tulus dan bahagia saat kita berhasil, dan selalu menghibur saat kita putus asa. Ketika kita mengalami kesulitan, ia seperti saudara yang selalu menopang dan menolong sedemikian rupa.
Rasanya memang sulit menemukan sahabat yang demikian. Tetapi inilah gambaran kasih yang telah ditunjukkan Allah kepada manusia. Sejak awal Injil Yohanes telah menegaskan bahwa Kristus adalah inkarnasi Allah (Allah yang menjelma menjadi manusia). Firman hidup yang menjadi daging. Kasih Allah yang mewujud dalam rupa insani. Di dalam Kristus kita melihat Allah yang mau bersahabat dengan manusia. Yang Kudus menghampiri orang berdosa. Yang Mulia tinggal bersama orang bernoda.
Tetapi Tuhan Yesus tidak main-main. Dia tidak hanya mengajar, tetapi selalu membuktikan apa yang dikatakan-Nya. Membuktikan bagaimana berperan sebagai seorang sahabat sejati. Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Seorang sahabat sejati tidak akan mengorbankan orang lain agar dirinya selamat. Sebaliknya, seorang sahabat selalu bersedia mengorbankan dirinya sendiri, demi keselamatan sahabat-sahabatnya. Pengorbanan sahabat pertama: pengenalan yang mendalam. Kedua, selalu ada untuk sahabat. Ketiga, selalu memberi yang terbaik untuk sahabat. Tentu saja pengorbanan ini lahir dari dasar kasih, kasih yang hidup, kasih yang meluap dan selalu ingin tercurah lewat tindakan yang nyata. Tanpa kasih, kita tidak mungkin menjadi sahabat sejati.
Budak menjadi Sahabat Allah
Lagi-lagi mungkin kita bertanya, apa untungnya menjadi sahabat Yesus? Apa istimewanya? Seorang sahabat sejati tidak pernah mengungkit-ungkit kesalahan kita. Demikian pula Kristus, tidak lagi menghitung-hitung besarnya dosa kita. Sejauh timur dari barat demikianlah ia membuang dosa kita, sejauh langit dari bumi demikianlah ia melempar kesalahan kita. Ketika kita membuka diri menyambut kerinduan Tuhan, kita tidak lagi disebut-Nya hamba atau budak, melainkan sahabat kekasih. Lebih dari pada itu, Ia malah menceritakan kepada kita segala rencana hati-Nya, yang sedang mengerjakan keselamatan dan hidup kekal bagi kita. Kita menjadi orang-orang yang berpengharapan. Orang yang berbahagia karena dikasihi sang pencipta. Pengorbanan-Nya bagi kita sahabat-sahabat-Nya adalah pengorbanan yang menebus, kasih yang menyelamatkan.
Bagaimana dengan Kita?
Bila Kristus telah mau solider dengan kita, dan memperlakukan kita sebagai saudara-Nya, bagaimana dengan kita? Maukah kita juga memperlakukan sesama kita seperti sahabat kita sendiri? Jika Kristus telah menunjukkan kasih sejati seorang sahabat, bagaimana dengan kita? Maukah kita belajar memiliki kasih seperti itu? Tahukah Saudara bahwa hanya dengan demikian maka kita akan semakin dibentuk, untuk menjadi saudara bagi Kristus.
Dikisahkan seorang raja yang memiliki musuh besar. Berulangkali musuh tersebut mencoba menyerang sang raja tersebut. Karena itu panglima perang dan pimpinan pasukan selalu bersiap diri menghadapi serangan dari lawan tersebut. Tetapi yang mengherankan, suatu hari sang raja justru mengundang sang lawan makan bersama dalam sebuah jamuan besar. Usai jamuan itu, panglima bertanya, mengapa raja justru mengundang musuh tersebut makan bersama. Raja menjawab, “Tenanglah, aku telah mengalahkan musuh kita dan mengubahnya menjadi sahabat kita. Jadi kita tidak perlu berperang lagi”.
Bagaimana dengan kita? Apakah kehidupan kita dipenuhi oleh kasih Kristus sehingga kita mampu mengubah setiap lawan menjadi para sahabat kita? Apakah kita mampu memperlakukan semua orang sebagai sahabat kita dan mengarahkan mereka untuk berpegang kepada nilai-nilai kebenaran dan keadilan? Berbahagialah jikalau lingkup persahabatan kita selalu meluas dan menerobos tembok-tembok pemisah, sehingga semakin banyak orang yang mengenal kasih Kristus.
No comments:
Post a Comment