Monday, May 4, 2009

Mengasihi Dengan Rela Berkorban

Pepatah para pecinta berbunyi demikian:

Seseorang dapat berkorban tanpa mengasihi,
tetapi tidak dapat mengasihi tanpa berkorban.

Kalau kita coba memahami bagian yang pertama, maka memang ada banyak contoh bahwa pengorbanan tidak selalu didasari pada kasih, tetapi juga sering karena ambisi, nafsu, kepentingan dan kebencian. Para terosris berkorban karena kebencian, ada juga yang bunuh diri karena putus asa, banyakk caleg berkorban habis-habisan hanya demi nafsu dan ambisi harta dan kekuasan. Tetapi ketika ambisi sirna, harapan juga sirna. Juga masih banyak pengorbanan lainnya yang mempertaruhkan harga diri demi materi, keluarga demi kerja dan iman demi sebuah pergaulan yang tidak menumbuhkan.
Tetapi kita akan tersentak ketika menyadari bahwa sesungguhnya kasih mesti selalu diikuti pengorbanan. Kasih selalu harus dibuktikan untuk dirasakan dan dirasakan untuk dibuktikan. Sekitar 50 tahun silam, Liu Guojiang (yang berusia 19 tahun) jatuh cinta pada seorang janda 29 tahun bernama Xu Chaoqin. Pada saat itu mencintai wanita yang lebih tua adalah suatu kejanggalan dan tidak dapat diterima. Seperti kisah Romeo dan Juliet, teman dan keluarga selalu mencela pasangan ini, karena perbedaan usia dan kenyataan bahwa Xu sudah punya beberapa anak.

Akhirnya pasangan ini memutuskan untuk melarikan diri dan tinggal di sebuah goa di pegunungan. Sekalipun memiliki kehidupan baru yang menyedihkan karena tidak memiliki apa-apa, namun cinta tetap mengikat mereka dalam kebahagiaan. Setelah 2 tahun tinggal di gunung itu, Liu mulai memahat anak-anak tangga, agar isterinya dapat naik-turun gunung dengan mudah. Proses memahat ini berlangsung terus selama 50 tahun.

Setengah abad kemudian, tahun 2001, sekelompok orang menjelajah hutan itu dan terheran saat menemukan 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu dengan tangannya sendiri. Inilah bukti cinta. Liu meninggal pada usia 72 tahun dalam pelukan sang istri, karena sakit sepulang dari ladang. Tahun 2006 kisah ini menjadi satu dari 10 kisah cinta yang terkenal di China, dan anak tangga serta gua itu menjadi musium agar kisah cinta ini dapat hidup terus.

Pengorbanan Sang Gembala Baik
Kisah di atas menegaskan bahwa cinta baru berbuah lewat pengorbanan. Cinta yang hanya omong kosong namanya gombal, istilah kerennya lebay (suka berlebihan, banyak omong, ngibul). Dalam logika kita, cinta mesti nyata lewat tindakan, cinta ibu lewat pemeliharaan, cinta orang tua dalam memperjuangkan keutuhan keluarga, cinta kekasih dalam mendampingi dan membayar harga untuk sebuah kebahagiaan bersama.

Prinsip ini juga berlaku bagi Allah. Allah adalah kasih. Dan Allah mengasihi dunia. Logikanya: cinta Allah itu harus nyata, agar bisa kita mengerti. Lalu apa buktinya? Diawali pernyataan Yoh 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal...” Allah tidak sedang ngegombal. Allah serius....

Ungkapan kasih Allah itu ditunjukkan-Nya dalam analogi peran-Nya sebagai seorang gembala. Seorang gembala yang baik. Menurut Tuhan Yesus, gembala yang baik selalu ada untuk domba-dombanya. Gembala yang baik memelihara kebutuhan dombanya. Gembala yang baik selalu mengenal domba-dombanya. Gembala yang baik siap bertarung melawan serigala. Dan, gembala yang baik memberikan nyawanya hanya untuk menyelamatkan domba-Nya. Di deso, Saya masih menikmati mengembalakan kerbau. Setiap hari bawa ke padang rumput. Dijagain. Digiring ke air untuk minum dan ngobak. Menyabit rumput untuk makan malam. Pokoknya mirip Daud dah. Di leher kerbau itu selalu dipasang lonceng yang terbuat dari kayu. Kita mesti mengenal suara lonceng itu untuk membedakannya dari kerbau orang lain.

Demikianlah Kristus juga telah menjadi gembala yang baik. Sebagai gembala yang baik Ia mendampingi yang kesepian, merawat yang sakit, mencari yang hilang, memberikan nyawanya untuk domba-Nya dan merebut kembali kita dari mulut kematian. Sebagai gembala yang baik, Yesus mengenal kita satu persatu, mengerti kita manusia berdosa yang perlu penebusan dan penyelamatan. Tidak seperti gembala upahan yang kabur ketika ada masalah dan tidak bertanggungjawab, Yesus tetap berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menyelamatkan dan membawa kita pulang kembali ke rumah Bapa.

Suatu ketika mantan Presiden RI yang pertama, Bung Karno diundang menghadiri perayaan Natal di Jakarta dengan tema “Yesus Adalah Gembala Yang Baik”. Ketika diminta memberi sambutan, dengan suara lantang Bung Karno membaca tema tersebut, lalu berkata:”Itu salah!” Tentu saja membuat hadirin menjadi kebingungan, lalu katanya pula: ”Yesus Adalah Gembala Yang Terbaik!” Semua merasa lega dan bertepuk tangan gembira!

Kita tidak tahu seberapa dalam Bung Karno mengenal Tuhan Yesus. Tetapi apresiasi itu menunjukkan kedalaman hatinya dalam meneladani Yesus. Yesus yang inspirasional. Bagaimana dengan kita? Seberapa dalam kita sudah mengenal Yesus. Sebagai dombanya, seberapa dalam kita mengenal suara-Nya, mendengar dan mengikuti-Nya di belakang? Seberapa dalam kita memaknai pengorbanan-Nya dan belajar seperti dia?
Saudara, seringkali kadar pengorbanan kita diukur oleh besarnya imbalan yang akan kita dapatkan. Padahal, kasih itu alamiah, tidak direkayasa, tulus dan tidak menuntut upah. Sebagai contoh: bila kita melihat seorang wanita yang hamil tua, terpeleset saat menuruni tangga, pasti timbul keinginan untuk menolongnya. Kita segera menghampirinya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah ibu itu kenal dengan kita atau tidak? Atau kita menanyakan lebih dulu siapa namanya dan tinggalnya di mana? Yang perlu adalah kita berkorban mengangkat dan mengantarnya ke rumah sakit, bahkan menemaninya hingga pulih.

Allah = Kasih = Berkorban
Rahasia Allah ialah kasih. Rahasia kasih ialah pengorbanan. Rahasia pengorbanan ialah kebahagiaan dalam memberi. Inilah yang mesti kita sadari bahwa Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, agar menjadi teladan bahwa kita juga wajib memberikan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Sebab setiap orang yang membenci saudaranya adalah pembunuh manusia. Dan seorang pembunuh tidak memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. Tetapi mereka yang mengasihi dengan pengorbanan tidak akan pernah kekurangan dalam sukacita hidup. Memakan makanan enak itu menyenangkan, tetapi jauh lebih enak makan dengan orang yang kekurangan. Tidur di pastori itu menyenangkan, tetapi jauh lebih menyenangkan berbagi kasur dengan seorang sahabat. Naik motor itu menyenangkan, tetapi jauh lebih menyenangkan memberi tumpangan kepada orang yang sedang butuh tumpangan.

No comments:

Post a Comment

Sabe Satta Bhavantu Shukitatta