Dipanggil Untuk Menyatakan Kemuliaan Allah
Ketika saya searching tentang tema ini di internet, Saya menemukan paling banyak artikel mengatakan bahwa hidup mulia identik dengan hidup sebagai jihad, mati sahid dan menjadi martir. Hidup mulia identik dengan berperang membela agama.
Saya langsung teringat dengan perang Israel-Hamas di Kota Gaza yang saat ini memasuki hari yang ke 21 dan memakan korban tewas lebihdari 1100 orang dan luka-luka sebanyak + 5000 orang. Sekalipun ada perbandingan persenjataan dan jumlah pasukan yang tidak seimbang antara Isarel dengan Hamas, namun semangat perlawanan Hamas tetap kuat. Ini terjadi karena bagi mereka adalah sebuah kehinaan jikalau tunduk kepada Israel. Adalah hidup yang nista jikalau membiarkan diri dijajah. Sebaliknya, adalah hidup yang mulia, jikalau mengadakan perlawanan. Hidup mulia jikalau mati dalam perang. Orang yang mati sahid akan memperoleh kemuliaan Allah dan kelak akan didudukkan dalam derajat yang tinggi di sorga.
Lalu bagaimana dengan Israel? Apakah mereka memiliki ideologi yang sama? Saya lebih melihat bahwa dalam setiap perang yang bermain adalah kepentingan. Tanpa kepentingan tidak mungkin ada pertikaian dan perang. Karena kepentingan sendiri, Hamas rela menjadikan warga sipil sebagai tameng dalam perang, sehingga banyak rakyat Palestina yang menjadi korban. Karena kepentingan juga Israel melakukan invasi dan tidak peduli berapa jumlah warga sipil dan anak-anak yang menjadi korban.
Ini menunjukkan bahwa ketika kepentingan menguasai manusia, maka suara Tuhan tidak lagi mampu kita dengar? Ketika kita dikuasai oleh nafsu sendiri, sepertinya sekalipun Tuhan berteriak kita tetap tuli. Contoh, Siapa yang pernah bertengkar di rumah atau dengan sahabat? Siapa yang pernah diam-diaman dengan teman sepelayanan? Saat itu pasti ada suara dalam hati yang berbisik: “Jangan bertengkar, sabar, tenang”. Tetapi karena gengsi akhirnya diam-diaman deh seminggu.
Di Alkitab kita bisa menemukan 2 orang yang mendapat kesempatan untuk mendengarkan panggilan Tuhan. Mereka adalah Samuel (1 Sam 3:1-10) dan Natanael (Yoh 1:43-51). Ada beberapa perbedaan pada pemanggilan kedua orang ini. Pertama, Samuel mendengarkan panggilan Tuhan di usia kecil, sementara Natanael mendengarkan panggilan Tuhan diusia dewasa. Ini menandakan bahwa usia tidak menjadi batasan bagi Tuhan untuk memanggil kita. Kecil-dewasa, pria-wanita, semua mendapat kesempatan untuk dipanggil dan dipakai Tuhan.
Kedua, Tuhan memanggil Samuel di Bait Suci dan untuk bekerja di sana, sementara Natanael dipanggil dari masyarakat awam dan untuk bekerja di sana. Ini menunjukkan bahwa Allah memang memanggil siapa saja, dari golongan mana saja untuk melayani di tempat mereka masing-masing. Panggilan Allah tidak hanya bagi penatua dan pendeta saja, tetapi juga bagi seluruh umat. Allah tidak hanya memakai orang sehat, tetapi juga orang sakit sebagai saksi-saksi iman. Allah tidak hanya memakai orang yang bahagia, tetapi juga orang menderita sebagai teladan-teladan iman. Allah juga berkenan memakai kita pribadi untuk menyatakan kemuliaan Allah di tempat masing-masing kita hidup.
Inilah yang dialami oleh Samuel Mulia. Dia lahir dari sebuah keluarga dokter yang harmonis dan tidak kurang kasih sayang. Tetapi Samuel lahir dengan kromosom XXY, yang mendorongnya menjadi seorang gay. Ia belum bisa tertarik dengan perempuan. Ada masa-masa kelam Samuel sebagai gay. Penghinaan orang terhadapnya dibalas dengan menghujat Tuhan. Ia pernah menantang Tuhan dengan berkata tidak takut masuk neraka. Samuel sering mencabuli dirinya. Pernah jadi simpanan suami orang selama dua tahun. Dan, ia tidak percaya pernikahan.
Dalam semua itu, Samuel Mulia tidak menemukan kebahagiaan hidup. Dalam sebuah operasi ginjal yang gagal, Samuel mampu menghayati suara Tuhan bahwa tidak sembarangan Tuhan mencipta manusia. Tuhan Yesus berkata bahwa dalam penderitaan manusia, nama Allah akan dipermuliakan. Samuel mengerti panggilan itu ditujukan kepadanya. Ia sadar Allah mengasihinya. Ia berubah. Sekarang telah 5 tahun ia menjaga kekudusan dirinya dari perbuatan cemar. Ia bahkan rutin mengadakan persekutuan rohani untuk para gay dan lesbian, dan banyak orang kembali membentuk kehidupan yang sehat dan wajar sesuai dengan kehendak Tuhan.
Dari kisah ini kita mengerti bahwa panggilan Tuhan selalu membawa kita kepada kehidupan yang lebih baik. Tuhan memanggil Samuel Mulia kepada perubahan hidup yang benar. Yesus memanggil Natanael menjadi murid dan penjala manusia. Samuel sebagai pelayan di Bait Allah. Dan Tuhan juga memanggil kita menjadi anak, murid dan saksi Allah di tengah-tengah dunia ini.
Di sini dibutuhkan kepekaan untuk merespon suara Tuhan. Samuel sangat peka terhadap panggilan Allah dan ia merespon panggilan itu, “Berbicaralah Tuhan, sebab hambamu ini mendengar”. Sebanyak tiga kali Tuhan bersuara dan hanya Samuel saja yang mendengarnya. Menarik untuk bertanya, “Mengapa Imam Eli tidak mendengarnya?” Jawabannya ialah karena Imam Eli tidak lagi peka mendengarkan suara Tuhan. Ia gagal menjadi imam yang baik. Ia gagal mendidik anak-anak dengan benar. Anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak menegur mereka” (1 Sam 3:13). Ia dikuasai oleh pementingan diri sendiri.
Berbeda dengan Samuel yang lugu, setia, taat dan mau dibentuk. Hidupnya kudus, sehingga ia mampu mendengarkan suara Allah dan memelihara panggilan itu. Inilah yang diminta Tuhan dari diri kita: Allah memerlukan tempat kudus dalam hati kita, sebagai tempat kehadiran-Nya. Kel 25:8 berkata, "Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka." Allah akan tinggal di dalam kita, jika kita menjadi tempat kudus-Nya. Kita adalah Bait Allah dan Bait Allah haruslah kudus. Allah tidak akan hadir di atas ketidakkudusan! Kata seorang pendeta, tanpa kekudusan, maka kita akan menjadi KUDIS (kurang disiplin - telat ibadah), KUMAN (kurang iman - untuk menjalani pergumulan hidup) dan KURAP (kurang harapan - untuk menghadapi masa depan).
Mengapa kita harus hidup kudus? Mengapa Allah berkenan memanggil kita? Mari kita baca I Kor. 6:20 “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Saudara-saudaraku, hidup kita telah lunas dibayar dengan hidup Kristus sendiri. Tubuh kita telah ditebus melalui tubuh Kristus sendiri. Tapi jangan pakai ayat ini sembarangan... pulang dari gereja kita jajan di depan gereja, terus kita tidak bayar dengan alasan kata Marto “makanan ini sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar”. Untuk kasus ini, ayat ini tidak berlaku.
Berbicara mengenai panggilan pribadi, apakah yang menjadi panggilan hidup saudara? Apakah panggilan saudara di dalam pekerjaan, di keluarga, di dalam pergaulan dan pelayanan di gereja? Tuhan memanggil kita untuk melayani. Melayani demi kemuliaan Tuhan. Bekerja bukan semata untuk keuntungan dan uang, atau untuk kemuliaan diri atau demi jabatan, melainkan untuk berkarya bagi Tuhan. Melayani keluarga demi kebahagiaan dan keharmonisan serta penciptaan persekutuan dengan Tuhan. Melayani di gereja sebagai bentuk ungkapan syukur atas keselamatan diri kita.
Dalam semua itu, kita harus tetap menjaga diri kita agar tetap kudus. Tidak saja pada hari Minggu, tetapi pada setiap hari, di setiap tempat dan dalam pergaulan dengan semua orang. Pertanyaan terakhir: sudahkah orang bergaul dengan kita bukan karena jabatan, harta dan penampilan kita, melainkan karena karakter, sifat, perbuatan yang kita nyatakan?
keren menarik dan lucu bahkan membangkitkan semangat, maju terus dalam Tuhan JBU
ReplyDelete