Mzm 150:1-6
Pujian adalah suatu sikap yang terekspresi secara wajar dan otomatis ketika seseorang masuk dalam kekaguman. Arti ini benar, mendalam dan menantang. Tanpa kekaguman, memuji Tuhan akan menjadi tugas dan kewajiban semata, yang ditunaikan secara biasa, atau menjadi basa-basi yang munafik dan kosong tanpa rasa. Tetapi, dengan kekaguman, memuji Tuhan menjadi ekspresi penuh arti, lahir dari hati dan menuju Sang Ilahi.
Kekaguman seperti itulah yang memenuhi hati Daud, ketika menyaksikan Allah hadir dalam jiwa dan kebaikan-Nya nyata dalam setiap peristiwa. Mazmur sendiri adalah kesaksian atas kekaguman itu. Daud mengenal Allah bak gunung batu yang kokoh, (ny)aman laksana kota benteng, perkasa seperti kekuatan pada burung rajawali dan setia bagaikan surya yang tidak pernah terlambat memberi kehangatan.
Rasa kagum itulah yang membimbing jiwa Daud untuk senantiasa memuji Tuhan, dengan segala kekayaan seni yang dimiliki manusia. Memuji Tuhan dengan sangkakala, gambus, kecapi , rebana, ceracap, seruling dan tari-tarian. Semuanya dipadukan menjadi persembahan yang indah, dinaikkan dalam rasa ketakjuban dengan warna kegirangan yang membakar semangat. Dengan kata lain, Daud memuji Tuhan dengan segenap hati-jiwa-raganya dan menyerukan kebaikan Tuhan yang sungguh mengagumkan.
Penghayatan ini penting artinya bagi kita, khususnya dalam moment Bulan Keluarga saat ini? Jelas saja, bahwa keluarga yang memuji Tuhan adalah keluarga yang di dalamnya Tuhan hadir. Setiap anggota mengagumi serta merasakan kebaikan-Nya. Keluarga tanpa kehadiran Tuhan laksana kawanan domba tanpa gembala, tiada pembimbing dan mudah diserakkan serta dicabik-cabik serigala kehancuran. Bayangkan betapa kacaunya jikalau setiap anggota keluarga berjalan sendiri-sendiri, melakukan kehendaknya sendiri dan hidup demi diri sendiri. Tetapi di dalam Tuhan, kita diikat menjadi satu dan utuh. Di dalamnya ada canda keharmonisan, suka yang menghalau lelah, tawa yang mengubah duka dan cinta yang merobek rasa jenuh. Maka, mari, undang Tuhan hadir di rumah kita, jangan biarkan Dia hanya mngetuk dan menunggu di balik pintu.
Pujian yang tulus tidak dapat dipisahkan dengan keseluruhan kehidupan kita dari hari ke hari. Keluarga yang senantiasa memuji Tuhan terlihat dari perilaku hidup sehari-hari, yakni bagaimana suami penuh kasih mesra dengan istri, orang tua akrab dengan anak, kakak sayang pada adik dan keluarga rukun dengan tetangga. Tidak hanya itu, kekaguman terhadap Tuhan juga terlihat dari ekspresi iman yang terus merindu untuk bersekutu dan melayani (jemaat) Tuhan tanpa putus. Pujian yang hidup lahir dari hati, nyata dalam aksi dan berbuahkan kasih.
Akan tetapi, iman yang dewasa tidak hanya memuji Tuhan pada saat hidup melimpah saja, melainkan juga pada saat kesusahan melanda. Pujian itu membebaskan jiwa dan hati kita. Sekalipun hidup ini dibelenggu oleh kesakitan dan keterbatasan, tetapi hati dan jiwa kita bebas. Pujian dalam kesesakan keluar dari iman, bukan dari perasaan semata, dan itu akan menjadi seruan yang kuat kepada Tuhan . Selanjutnya, jika kita masih dapat memuji Tuhan pada masa sulit, itu membuktikan kita mengenal siapakan sebenarnya Tuhan yang di dalam kita. Akhirnya, pujian dalam kesesakan akan menjadi kesaksian yang indah bagi sesama.
Demikian pula hendaknya puji-pujian kita tidak pernah berhenti kepada Tuhan. Dalam suka, duka, sakit dan terhimpit. Jikalau kita berhenti memuji Tuhan, Tuhan dapat menjadikan batu-batu bisu berbicara untuk menaikkan pujian bagi-Nya. Maukah diri kita diganti dengan batu-batu atau orang lain. Tentu tidak
No comments:
Post a Comment