Sunday, February 15, 2009

Pengabdian Abadi

PENGABDIAN ABADI
(Mzm. 147:1-11 & Mrk. 1:29-39)

Suatu ketika seorang ibu jatuh pingsan. Dalam kondisi itu, konon ia bertemu dengan malaikat lalu bertanya, “Apakah sekarang waktunya meninggal?” Jawab Malaikat itu, “Belum, waktumu masih 30 tahun lagi!” Setelah siuman, wanita itu sangat gembira. Ia merasa 30 tahun adalah waktu yang sangat panjang dan harus diisi dengan hal-hal yang menyenangkan. Tapi apa yang bisa dilakukan wanita dengan wajah dan kulit yang mulai keriput itu? Kita lihat nanti.

Tapi, sekarang ada yang perlu kita perhatikan bahwa sebagian besar kita merasa seperti si ibu tersebut, mengira bahwa waktu hidup kita masih sangat panjang. Padahal siapa yang tahu usia kura-kura; binatang paling tua, tapi banyak juga yang mati muda. Memahami bahwa hidup kita masih panjang akan memberi kita pengharapan bahwa kita masih memiliki banyak kesempatan untuk melakukan perbuatan dan pekerjaan yang baik dan berguna. Akan tetapi, pada sisi lain, ada bahaya yang juga menyertainya:
1. Kita cenderung menjadi sangat santai, sibuk dengan urusan sendiri, pekerjaan sendiri dan larut dalam kesenangan sendiri. Energi habis untuk diri sendiri.
2. Kita cenderung merasa bahwa belum waktunya untuk melayani, masih terlalu muda untuk melayani, aku nggak bisa, yang lain aja (wa bo pien pa’mi kai-lah), terlalu sibuk dengan pekerjaan, belum waktunya hidup jujur.

Akhirnya kita menjadi (kuman) kurang iman, (kudis) kurang disiplin dan (kurap) kurang harapan dalam hidup ini. Tentu saja usia dan pekerjaan tidak dapat disalahkan. Yang salah ialah ketika orientasi/fokus berhenti pada pencarian keuntungan diri sendiri, bukan pada Tuhan. Orientasi kita mentok pada perhitungan waktu, bukan pada pengabdian kepada Tuhan.

Wanita tersebut tidak mau menghabiskan sisa hidupnya dalam masa tua. Akhirnya ia memutuskan untuk menjalani operasi plastik. Wajah, perut, kulit dan bagian tubuh lainnya dipermak habis. Memang, jadilah wanita itu seperti gadis 25 tahun. Sepulang dari rumah sakit, saking girangnya ia lupa memperhatikan jalannya, hingga akhirnya tertabrak mobil hingga tewas. Kemudian ia bertemu kembali dengan malaikat yang sama, lalau mengajukan komplain, “katanya masih hidup 30 tahun lagi, kenapa sekarang sudah mati?” Malaikat itu dengan ringan menjawab, “O, rupanya kamu toh. Sorry ya…Habis wajah kamu beda sih, jadi saya tidak kenal.”

Memahami hidup lepas dari orientasi kepada Allah akan mengacaukan pengabdian kita. Ketika masalah datang kita cenderung meninggalkan jalan pengabdian kepada Tuhan, atau barangkali menjalaninya dengan keterpaksaan yang menggerogoti ketulusan dan kerelaan hati kita. Akibatnya, pelayanan berjalan ada kadarnya, hati terbeban dan tidak ada pengabdian yang sungguh-sungguh.

Mengabdi berbeda dengan diperbudak. Seorang abdi bekerja dari hati dan kesadaran diri. Ada niatan yang tulu. Sementaraseorang budak bekerja dengan keterpaksaan, kewtidakbebasan dan ketidakikhlasan. Bagaimana mengabdi kepada Allah tanpa merasa dipaksa, dibebani, ditekan ataupun diperbudak? Orientasi mata kita harus tertuju kepada karya penebusan Kristus yang tersalib. Hati kita harus menghayati karya keselamatan Allah yang telah dikerjakan bagi kita.

Pemazmur mengungkapkan bahwa ada banyak alasan yang seharusnya membuat kita melimpah dengan syukur dan mengabdi kepada Allah dengan sukacita. Dalam pengalaman hidup Israel, pemazmur takjub melihat bagaimana: (1) Tuhan mengumpulkan kembali orang-orang yang tercerai-berai, (2) Tuhan menyembuhkan orang-orang yang sakit dan patah hati, (3) Tuhan menegakkan orang-orang yang menderita, (4) Tuhan mengatur semesta dengan baik, dan (5) Tuhan menyediakan makanan bagi seluruh makhluk dengan berkecukupan. Menyadari semua ini, maka selalu ada alasan untuk bersyukur dan memuji Tuhan. Lihat apa yang terjadi di hidup kita, maka kita akan menemukan alasan untuk bersyukur dan mengabdi kepada Tuhan dengan segenap hati.

Paulus menyadari dirinya sebagai hamba yang telah ditebus Tuhan Yesus, orang yang telah ditangkap kasih Allah dan penjahat yang telah diubah menjadi (penjahit sekaligus) penjala manusia. Atas semua itu Paulus sangat bersyukur. Ia bersedia mengabdikan dirinya sebagai saksi Injil Allah kepada dunia. Segala pelayanannya diberikan secara cuma-cuma, karena semua itu berangkat dari rasa syukur yang mendalam. Paulus telah mendapatkan kasih dan keselamatan itu secara cuma-cuma, maka ia juga memberikannya gratis. Sekalipun berhak mendapat upah atas kerja kerasnya, namun Paulus rela melepaskan hak itu, lalu mengedepankan kewajiban kepada Allah. Di sini kita memahami bahwa pengabdian selalu berjalan beriringan dengan kesediaan untuk melepaskan hak.

Kalau kita menghayati ini dengan sungguh-sungguh, maka kita akan termotivasi untuk mengabdi dengan sukarela, beribadah bukan untuk mendapatkan berkat duniawi, bernyanyi bukan untuk tepuk tangan, melayani bukan untuk dihormati, menjabat bukan untuk mencari untung semata. Menghayati diri sebagai badi Allah, pelayan Tuhan, maka sukacita kita melampaui penghargaan duniawi itu. Seperti kata Paulus, sukacitaku ialah memberitakan kebenaran Allah dan upahku ialah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, karena upahku telah dibayar lunas ketika aku ditebus dan diselamatkan Allah.

Ketika semua orang pergi mengungsi meninggalkan kepulan asap Gunung Merapi, Seorang lelaki tua malah mendaki gunung itu mendekat ke pucuknya. Di sana ia melakukan ritual seperti tradisi seharusnya. Ia adalah Mbah Maridjan. Kalau kita bertanya, berapa sih gaji Mbah Maridjan? Rp. 5.600,-/bulan. Mengapa ia rela menjalankan tugas berbahaya tersebut? Alasannya sederhana, ada kebanggaan ketika ia dapat melayani kerajaan dan masyarakat.

Hal yang lebih besarsama dilakukan oleh Tuhan Yesus. Yang dilakukan oleh Mbah Maridjan hanya untuk sekelompok orang, tetapi Yesus berkarya untuk seluruh dunia. Dalam bacaan kita dikisahkan bahwa melayani orang banyak menjadi maksud kedatangan Yesus. Ia menyatakan kasih dan penebusan Allah bagi seluruh dunia. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang" (Mark. 1:38). Untuk mencapai misi itu, Yesus telah merendahkan dirinya dan mengambil rupa seorang hamba, taat kepada kehendak Allah sampai mati. Kristus meletakkan kehendak pribadinya, dan memikul kehendak Allah untuk mewujdukan kasih Allah kepada dunia.

Salah seorang penegak HAM tersohor yang pernah dimiliki Indonesia adalah Munir. Kita semua tahu bagaimana ia selalu berusaha menegakkan keadilan dan HAM. Tentu saja dalam semua perjuangan itu, Munir pasti banyak menerima ancaman/teror dari mereka yang merasa terancam. Namun semua itu tidak lantas mematikan pengabdiannya. Ia malah memilih untuk memperdalam talentanya untuk meningkatkan panggilan pelayanannya bagi masyarakat. Sampai pada akhirnya, Ia tetap menjadi seorang abdi bagi sesama.

Merawat suami atau isteri yang lumpuh dengan sukacita adalah wujud pengabdian kita kepada Sang Pencipta. Menjalankan panggilan gerejawi kita sebaik mungkin adalah wujud pengabdian kita kepada Kepala Gereja. Bekerja dengan jujur dan bersemangat adalah wujud pengabdian kita kepada Pengusaha Surgawi. Membela negara dan melayani rakyat adalah wujud pengabdian kita kepada Allah sumber segala kuasa. Dalam perumpamaan Yesus tentang Hamba Yang Setia, mungkin kita tidak dapat memberikan hasil 10 talenta, 5 talenta, atupun 2 talenta. Tetapi ketika kita mampu mempersembahkan 1 talenta saja kepada Allah, namun kalau kita persembahkan dengan sukacita, Allah berkata “Baik sekali perbuatanmu, hai kamu hambaku yang baik dan setia, engkau telah memikul tanggungjawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

No comments:

Post a Comment

Sabe Satta Bhavantu Shukitatta