(Yohanes 15:9-17)
Perpisahan dengan orang yang terkasih biasanya adalah momen istimewa. Itulah sebabnya, pesan yang disampaikan pada momen itu juga istimewa, bersifat inti dan mendesak. Pesan itu sekaligus juga mewakili segala doa, harapan dan permintaan. Dalam konteks perpisahan yang mendesak inilah Yesus menegaskan pesan kepada para murid supaya mereka “saling mengasihi”. Inilah harapan, doa dan inti pesan terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa saling mengasihi adalah keutamaan hidup orang beriman. Di Yoh 15:12, Tuhan Yesus berkata: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi; seperti Aku telah mengasihi kamu”. Karena begitu pentingnya pesan ini, Yesus berkali-kali mengungkapkannya seperti dicatat juga dalam Yoh. 13:34, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”
Benarkah ‘saling mengasihi’ merupakan perintah baru? Adakah sesuatu yang baru dari saling mengasihi? Sebenarnya perintah saling mengasihi bukanlah hal yang baru. Semua agama dan kepercayaan (termasuk yang lebih tua dari kekristenan) juga menekankan ajaran saling mengasihi. Kalau begitu, apakah yang baru dari saling mengasihi? Memahami perkataan Yesus di atas: sama seperti Aku mengasihi kamu adalah poin pertama, dan poin keduanya ialah demikian pula kamu harus saling mengasihi. Artinya, perintah mengasihi diwalai dengan pengalaman dikasihi. Para murid baru akan mampu mengasihi setelah mereka sendiri mengalami kasih Allah Kristus itu sendiri. Dasar, sumber atau inspirasi supaya orang mengasihi bukan karena orang itu hebat, lebih saleh, lebih suci dll, tetapi justru orang mengasihi karena dia sudah lebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Dengan demikian, perintah ini bukan sesuatu yang kosong, yang diberikan sebagai paksaan atau tanpa pengalaman. Kesadaran macam inilah yang membuat orang dapat masuk dalam pengalaman untuk mengasihi orang lain secara tulus tanpa pamrih.
Bagaimanakah cara Yesus mengasihi para murid:
1. Yesus mengasihi para murid tanpa memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Aspek ini lahir dari komitmen hati Yesus sendiri, bahwa Ia datang untuk melayani manusia (Luk 4:18-19). Banyak orang terlibat dalam perbuatan baik karena latar belakang yang berbeda-beda: ingin dipuji, tuntutan pekerjaan atau diminta/didesak orang lain. Oleh karena itu, setiap murid harus masuk dalam tindakan kasih dengan komitmen murnni yang berlandaskan kasih. Komitmen ini akan menjauhkan orang dari kepentingan dirinya sendiri.
2. Kasih Yesus kepada para murid berakar pada semangat pengorbanan. Kasih Yesus dinyatakan dengan penyerahan diri Yesus secara total demi pelayanan bagi sesama. Mengasihi orang lain perlu semangat kerendahan hati dan pengorbanan. Demi proses itu kadang kita harus berani “mematikan” kecenderungan-kecenderungan yang membuat kita merasa berbeda dengan orang lain. Kasih kepada orang lain tanpa pengorbanan adalah sesuatu yang sulit, kalau tidak bisa disebut mustahil.
3. Yesus mengasihi para murid-Nya dengan penuh pengertian. Yesus mengenal para murid dan para murid mengenal Dia. Hubungan mesra itu bisa terjadi kalau mereka tinggal bersama-sama dengan Dia (=hidup bersama dengan Yesus). Dalam kebersamaan itu mereka saling mengenal dan terbuka menerima satu sama lain. Suasana kasih bisa terwujud kalau orang saling mengenal, atau sekurang-kurangnya, kalau orang terbuka hatinya kepada sesama. Sifat curiga, dendam dan iri hati adalah lahan buruk untuk tumbuhnya suasana kasih itu.
4. Kasih Yesus kepada para murid bersifat mengampuni. Kalau kita amati kebersamaan Yesus dengan para murid kadang diwarnai oleh sikap tidak setia dari para murid; mereka meninggalkan Dia, mereka ragu-ragu dan sulit mengerti Yesus dengan baik; kadang mereka itu mencela dan protes pada Yesus. Tetapi Yesus tidak membenci mereka, Dia justru setia menerima dan sabar mendampingi mereka. Kasih yang sejati perlu ada unsur pengampunan. Memang benar kasih yang tidak belajar untuk mengampuni adalah kasih yang kering lalu mati.
Bagaimanakah kita bisa menjadi keluarga yang saling melayani? Pertama-tama ialah kita harus mengalami dahulu rasa dikasihi itu. Bahwa dikasihi itu sungguh indah. Kita menjadi berarti, berharga dan tidak sia-sia. Hidup kita menjadi penuh warna, rasa dan sahabat.
Oleh karena itu, ingatlah bahwa orang lain juga sangat merindukan pengalaman dan perasaan dikasihi itu. Mereka juga mau dinilai berharga, mereka juga mau menjadi orang yang berarti dan tidak sia-sia. Orang lain juga mau menjadi sahabat kita, diterima dengan tulus dan dikasihi tanpa pamrih. Bagaimanakah cara kita mengasihi sesama? Mungkin kita tidak dapat menolong 1000 orang, 100 orang atau 10 orang, 2 orang saja kita tolong dalam sehari, maka Tuhan akan sanga bersukacita. Mengampuni orang yang membentak kita akan membuat para malaikat bersorak-sorai dalam pujian. Tidak cuek kepada orang berarti telah member mereka berkat terbesar yaitu penerimaan yang tulus. Memberi senyum kepada bawahan/karyawan kita akan menjadikan mereka berarti. Mengucapkan terima kasih kepada anak karena menolong kita akan membuat hidup mereka bahagia. Dan, membawa orang lain dalam doa kita sungguh akan mendekatkan (hati) Tuhan kepada mereka. Selamat melayani. Immanuel.
gw setuju banget
ReplyDelete