(2 Raj 5:1-14 & Mrk 1: 40-45)
Kesehatan merupakan anugerah dan kebutuhan manusia yang sangat penting. Kalau bisa sih selalu sehat dalam hidup. Makan nggak makan yang penting sehat. Bisa nggak begitu? Kalau kita berkunjung ke rumah-rumah jemaat, selalu kita bertanya “Sehat kan semua?” atau keluarga yang bersangkutan minta didoakan “Agar cepat sembuh, agar selalu diberi kesehatan”. Dan biasanya siapapun akan membayar harga semampu mungkin untuk berobat. Kalau perlu jual tanah, mobil atau rumah untuk pembiayaannya.
Dua Orang Kusta
Dalam bacaan ini kita menemukan dua orang yang sedang mengalami sakit berat, yaitu Naaman dan Si Kusta yang bertemu dengan Tuhan Yesus. Dalam masyarakat Yahudi, kusta merupakan salah satu penyakit terberat. Seperti apakah derita berpenykit kusta ini?
Kusta akan mengakibatkan rasa sakit yang mendalam pada sipenderita, kulit-kulitnya akan membusuk, mengeluarkan bau dan rasa pedih yang amat sangat, bahkan perlahan satu persatu organ tubuh mereka bisa lepas begitu saja. Belum ada obatnya.
Derita yang mereka alami tidak berhenti di sana. Mereka juga mengalami siksaan dari masyarakat, karena seorang yang berpenyakit kusta akan diisolasi, disingkirkan dari interaksi sosial. Ketika mereka ditemui dalam kawasan pemukiman umum, mereka akan dilempari dengan batu dan diteriaki najis, agar si penderita jangan coba-coba memasuki pemukiman.
Penderitaan mereka semakin sempurna ketika mereka juga tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam peribadahan-peribadahan, tidak lagi bisa mendengarkan kotbah seperti kita, dan mereka kemudian merasa diri mereka rendah, hina dan tidak layak di hadapan Tuhan dan sesama.
Dengan alasan ini tentu saja semua orang akan merasa bahwa menderita penyakit kusta adalah derita seumur hidup. Inilah bayangan yang dimiliki Naaman, ketika ia mulai mengidap gejala penyakit kusta. Ini jugalah yang dialami oleh si kusta yang bertemu dengan Tuhan Yesus. Untuk memperoleh kesembuhan, si kusta ini memberanikan dirinya untuk bertemu dengan Tuhan Yesus, sekalipun mungkin taruhannya adalah lemparan batu dari masyarakat. Untuk memperoleh kesembuhan Naaman juga rela pergi ke luar negeri, dari Aram ke Israel. Sekalipun saat itu Israel dan Aram sedang bermusuhan, namun Naaman tetap berusaha datang ke Israel untuk bertemu dengan nabi Elisa. Sampai-sampai Raja Aram membekalinya dengan biaya pengobatan sebesar 7,7 Miliar rupiah. Yang penting panglimanya sembuh. Ini membuktikan betapa pentingnya arti kesehatan dalam hidup ini.
Cari Solusi Spektakuler?
Hanya, manusia zaman sekarang cenderung mencari solusi hidup yang serba cepat, spektakuler dan luar biasa. Kalau saudara diminta memilih naik pesawat atau kapal laut, disket atau flasdik, komputer atau laptop, kira-kira pilih mana? Pasti pilih yang cepat, hebat dan luar biasa dayanya. Ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam pola yang serba cepat. Ketika tiba di rumah Elisa, Naaman berharap akan bertemua Elisa agar bisa menjamah dan menyembuhkan penyakitnya secara ajaib. Akan tetapi, ternyata Elisa tidak menemuinya, malah menyuruhnya mandi di sungai Yordan sebanyak tujuh kali. Naaman kecewa, dan pergi dengan hati gusar. Kalau soal mandi, ngapain juga harus jauh-jauh sampai ke negeri orang.
Ada juga contoh terkini. Baru-baru ini ratusan orang datang ke daerah Jombang untuk bertemu dengan dukun cilik bernama Ponari, yang memiliki sebuah batu yang didapatnya saat ia tersambar petir. Sekalipun 2 orang meninggal karena antrian yang sangat padat, namun semangat masyarakat tidak lantas surut hanya untuk mendapatkan air yang telah dicelupkan batu milik Ponari. Sekalipun MUI dan Polisi melarang praktek ini, tetap saja orang berbondong-bondong datang untuk disembuhkan. Yang penting mereka dapat disembuhkan dengan cepat, ajaib dan tanpa biaya besar.
Melalui pengalaman dua si kusta ini, Firman Tuhan mengajar kita bahwa karya pertolongan Tuhan tidak selalu terjadi melalui kejadian-kejadian spektakuler dan ajaib, melainkan juga lewat hal-hal kecil dan terlihat biasa. Dalam kesembuhan Naaman, Tuhan hanya memakai cara yang sederhana, biasa dan tidak terkira sebelumnya. Hamba Naaman sendiri mengakui bahwa hal itu sangatlah mudah. Namun melalui hal biasa itulah karya Tuhan menjadi nyata bagi Naaman.
Seperti Naaman, jangan mata kita terpaku pada cara atau bentuk penyembuhan, melainkan melihat bahwa Tuhanlah yang berkarya dalam cara-cara tersebut. Jangan kita terpaku pada apa yang terlihat: obat, uang, pekerjaan, kendaraan, melainkan mengamini bahwa Tuhanlah yang bekerja dalam semua hal tersebut dengan cara-cara yang dikehendaki-Nya. Sama seperti si kusta yang bertemu Tuhan Yesus, ia tidak peduli caranya, yang penting ia melihat bahwa Yesus mampu meyembuhkannya. Ia siap dibawa Yesus ke luar tembok Yerusalem, menjamah dan menyembuhkannya di sana, hingga tahir.
Sekarang ini orang cenderung membalik keadaan. Bukan “Aku percaya, Allah menolong”, melainkan “Allah menolong, aku percaya.” Orang cenderung melihat dulu baru percaya. Naaman sembuh dulu baru percaya. Sukses dulu baru percaya. Tapi, kalau gagal, kalau nggak sembuh, kalau tidak ada hal ajaib, kalau rejeki menurun, keyakinan menjadi taruhan yang pertama. Akibatnya, banyak orang yang datang ke KKR berorientasi sembuh, namun pulang dengan kekecewaan, keraguan, kebimbangan, merasa tidak didengar dan ditinggalkan Tuhan. Orisentasi semacam ini tentu saja keliru. Ketika kita berangkat dengan keinginan kita sendiri, kita sering terjebak dalam sikap dan tindakan iman yang salah. Kita cenderung memaksa Allah untuk menolong kita secepat dan seajaib mungkin.
Menjelang hari valentine, seorang pemudi meminta kepada Tuhan setangkai bunga dan seekor kupu-kupu untuk dipelihara. Tetapi, Tuhan malah memberinya kaktus dan seekor ulat besar. Pemudi itu terkejut dan menjadi kecewa, karena mendapat kebalikan dari permintaannya. Namun pas hari Valentine pemudi itu takjub melihat kaktus itu telah berbunga indah dan seekor kupu-kupu indah hinggap di atasnya. Ia pun sadar bahwa Tuhan punya 1001 cara untuk membahagiakan umat-Nya, bahkan di luar dugaan-dugaan kita sebelumnya.
Mulai Dengan Iman
Pertanyaan terakhir yang harus kita jawab adalah dalam banyaknya pergumulan hidup yang kita alami, bagaimanakah kita harus bersikap di hadapan Tuhan? Sikap iman yang seharusnya kita bangun adalah sikap iman seperti si kusta yang bertemu dengan Tuhan Yesus. Si kusta itu datang dengan segala kerendahan hati, segala kekuatan harapan, dan segala kekuatan iman yang ia miliki. Kalimat “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku” menunjukkan kesadaran bahwa (1) Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk menolong maslah apapun, (2) sesungguhnya ia tidak layak untuk keajaiban. Sehingga yang paling dibutuhkan oleh si kusta ialah belas kasihan Tuhan Yesus. Ia tidak mau memaksa, tidak mendesak ataupun memerintah. Seperti pemazmur, kita berseru ‘dengarlah Tuhan dan kasihanilah aku, Tuhan, jadilah penolongku’.
Ini artinya kita jangan datang kepada Yesus dengan naik pesawat: ambisi yang terlalu tinggi, tuntutan pertolongan yang spektakuler, atau harapan demi kenyamanan, kemudahan dan kesenangan semata. Tetapi kita harus belajar memangkas sayap-sayap kesombongan kita dan mulai datang kepadanya lewat salib, agar kita sungguh mengerti maksud dan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita.
Terakhir, masih banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan jamahan kasih dari Tuhan Yesus. Dan Tuhan telah mengutus kita bahwa barangsiapa melakukan sesuatu hal kecil bagi mereka, kita telah melakukannya bagi Tuhan. Untuk itu, marilah kita saling menolong, saling menopang dan melayani sebaik mungkin.
No comments:
Post a Comment