Monday, February 23, 2009

Pathos: Allah Menderita karena Kasih

Belajar Dari Pathos Ilahi

Pathos berarti gerakan hati yang penuh kasih, kepedulian, penerimaan dan empati yang mendalam terhadap manusia. Kebalikan dari pathos ialah apathos = apati/antipati, sikap menolak dan anti terhadap sesama, suka memberontak dan hati yang diwarnai kebencian. Dalam diri orang yang apathos tidak ada kasih dan penerimaan yang tulus. Yang ada ialah kebencian, penolakan dan permusuhan.

Tentu saja apathos ini bukan sikap Allah, sebab di dalam Dia tidak ada kebencian dan penolakan. Ia menerima semua orang yang datang kepada Dia dan mengasihi orang-orang yang mencari wajah-Nya. Kalau jujur diungkapkan, itulah pesan utama Natal. Kelahiran Kristus adalah bukti bahwa hati Allah senantiasa terarah kepada manusia, Allah memikirkan manusia, matanya mengamati kita, hatinya merasakan pergumulan manusia sehingga Ia sendiri turun dari tahtanya untuk menolong dan menyelamatkan kita.

Alkisah ada seorang gadis buta yang hidup dalam kekecewaan karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga marah kepada semua orang karena tidak dapat menolongnya, kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Akan tetapi, dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia. Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?" Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya. Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."

Perbuatan pria tersebut mengungkapkan besarnya pathos yang dimilikinya bagi kekasihnya. Dia mendampingi, mengasihi, menerima kelemahan dan rela mengorbankan milik kesayangannya bagi orang lain. Bukankah ini juga gambaran yang kita saksikan dalam Kristus Yesus. Karena kasihnya kepada manusia, Allah rela
- Ia menjadi manusia dan turun ke dalam dunia,
- Ia bersedia menjadi sahabat orang berdosa dan tersisih,
- makan dan tidur bersama mereka serta menyembuhkan orang-orang yang sakit,
- Yesus menderita dan mati di kayu salib,
- Semua itu dijalani Allah untuk menebus dan menyelamatkan manusia.

Itulah Pathos Allah, yang mengungkapkan kasih Allah yang mendalam, kepedulian tanpa henti dan pengorbanan yang tiada ternilai harganya. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana respon manusia terhadap pathos Allah itu? Kebanyakan manusia memiliki respon seperti perempuan dalam ilustrasi kita. Pertama, ada orang yang tidak menyadari kebaikan hati orang lain. Ada orang yang tidak menyadari kebaikan dan kasih Allah kepada manusia. Contoh dalam kisah kita digambarkan oleh orang-orang Farisi tidak menyadari bahwa kasih Allah telah turun bagi manusia. Hidup mereka terlalu nyaman untuk disibukkan melihat tempat lahirnya sang mesias. Mereka terlalu lelap untuk bangun dan mendengar seruan para malaikat yang menyanyi memuliakan Allah. Mereka tidak mampu menyadari bahwa pada malam itu telah lahir Jurus’lamat bagi dunia.
Kedua, seperti perempuan itu yang menolak kekasih yang telah berkorban baginya, demikian pula banyak orang yang menolak hadirnya sang Mesias. Herodes adalah orang yang memiliki hati yang apathos. Ia menolak dan mengecam kehadiran Kristus. Herodes tidak dikuasai oleh iman, tetapi dikuasai oleh “paranoia”, kecemasan atau ketakutan yang berlebihan. Takut jabatannya diambil alih, takut tidak memiliki kuasa, takut menjadi miskin, takut pekerjaan hilang, dsb. Orang yang paranoid seperti ini bersikap tidak realistik, tidak logis, dan dangat egosentris. Itulah sebabnya Herodes memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi yang berumur di bawah 2 tahun, agar jabatan dan kehormatannya tidak diganggu siapapun. Mereka ini akan melewatkan sesuatu yang sangat berharga dari Allah.
Sebagai orang beriman, respon kita seharusnya sama seperti para gembala dan orang Majus (Mat. 2:1-12). Para gembala senantiasa menunggu datangnya rahmat Tuhan. Dalam kelemahan yang mereka alami, pengharapan satu-satunya ialah pertolongan Allah. Dengan hati yang menanti dan senantiasa mencari rahmat Allah, merekalah yang siap menyambut berita sukacita atas lahirnya Sang Jurus’lamat.
Sementara itu, Para Majus adalah orang-orang Bijak dari Timur (Persia). Dengan hikmat yang mereka miliki, mereka giat menelusuri tanda-tanda alam dan menggali pesan-pesan kenabian dalam kitab suci, sehingga mereka menemukan anugerah Allah yang dinyatakan bagi manusia.Pencarian mereka tidak selesai dengan mengetahui akan lahirnya seorang raja yang besar. Pencarian mereka berubah menjadi sebuah peziarahan iman, kerinduan, hasrat hati untuk menemukan raja yang besar itu. Mereka meninggalkan kenyamanan hidup, berepot-repot ria meninggalkan istana masing-masing, melakukan perjalanan yang melelahkan dan menempuh daratan sejauh 1.600 Km untuk sampai ke ke Betlehem, tempat lahirnya Mesias.
Perjalanan yang jauh tidak membuat mereka putus asa, karena yang menguasai hati mereka adalah pathos ilahi, gerakan hati untuk mencari, menemukan, dan mempersembahkan yang terbaik untuk Sang raja. Yang menguasai hati mereka bukan lagi harta, jabatan, tahta ataupun kehormatan duniawi, melainkan kerinduan dan motivasi untuk segera bertemu dengan Sang Jurus’lamat. Kerinduan seperti ini akan mencegah mereka untuk mengeluh, ngomel, hidup dalam kritik, dan menyerah.

Apakah yang mereka dapatkan? Anugerah Allah tercurah bagi orang-orang yang mencari-Nya. “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang ang berseru padanya dalam kesetiaan (Mzm 145:18). “Mendekatlah kepada Allah, maka Ia akan mendekat kepada-Mu” (Yak 4:8). Ini menandakan bahwa Tuhan berkenan ditemui oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya.

Bagaimana dengan kita? Adakah kita memiliki kerinduan untuk mencari wajah Tuhan? Ketika datang ke gereja, seberapa sungguh kita ingin menemukan Tuhan? Ke gereja untuk cari Tuhan, bukan cari hormat, pujian.
Ketika bekerja, seberapa sungguh kita melibatkan Tuhan. Atau jangan-jangan benar kata orang, bahwa setiap orang yang datang ke Batam bukanlah untuk mencari Tuhan. Kalau begitu, benarkah kita bekerja semata cari duit, melainkan menikmati kebaikan Tuhan, menemukan kasih dan pertolongan serta belajar melibatkan Dia dalam pekerjaan dan bersyukur senantiasa
Sudahkan kita memiliki pathos ilahi. Gerakan hati untuk tidak saja menerima Tuhan dengan sungguh-sungguh, melainkan juga menerima orang lain dengan tulus, mengasihi mereka dengan sungguh. Masihkah hati kita tergetar melihat orang yang berduka, kesepian, kelaparan. Berilah hatimu untuk orang lain. Mulai dari hal-hal kecil dengan mendengarkan keluhan mereka yang berbeban berat, memberikan semangat kepada yang putus asa dan menolong mereka yang tidak berdaya. Barangkali kita tidak dapat menolong 1000 orang, 100 orang atau sebanyak 10 orang, tetapi menolong 2 orang saja setiap hari akan menjadi kesukaan besar bagi Tuhan.

No comments:

Post a Comment

Sabe Satta Bhavantu Shukitatta