Sunday, September 13, 2009

Mengaku Dengan Hati

Matius 16:13-20

Saya mau mengajak saudara berandai-andai!
Seandainya, suatu hari tiba-tiba malaikat Tuhan menampakkan diri kepada semua orang dan berkata: “Demikianlah firman Tuhan, Hakim yang adil, sejak saat ini umur manusia hanya tinggal tiga hari saja!”

Kalau coba kita bayangkan, bagaimana kira-kira kehidupan manusia selama sisa tiga hari itu? Saya membayangkan selama tiga hari itu semua saluran telepon akan sangat sibuk, karena tiap orang berlomba menelpon keluarga dan kerabatnya untuk pamit dan mohon maaf lahir dan batin. Tiap jalur jalanan akan macet, karena semua orang sibuk berkunjung saling sungkem. Bandara dan terminal akan kosong, karena pilotnya juga sibuk pulang kampung. Lalu, bagaimana dengan gereja? Bisa penuh atau sebaliknya. Tergantung di mana orang mau dijemput malaikat itu.

Kemudian tibalah hari H, hari kematian itu. Yesus datang kembali seperti yang dijanjikan-Nya. Ia datang khusus untuk manusia. Tetapi Yesus tidak lagi memberikan salam seperti biasa. Bukannya berkata, “Damai sejahtera bagimu”, melainkan mengajukan pertanyaan, “Menurut kamu siapakah Aku?” Kira-kira, apakah jawaban yang paling jitu yang akan Saudara berikan kepada Yesus? Saya membayangkan kebanyakan orang akan menjawab: Engkau adalah Tuhan, Mesias dan Anak Allah.

Memang tidak salah. Tetapi sepertinya jawaban kita tidak ada bedanya dengan orang lain.. Orang lain juga bilang Yesus itu adalah nabi dan utusan Allah. Kristen KTP yang tak pernah beribadah pun akan pun mengatakan Yesus adalah Tuhan, Mesias dan Anak Allah. Bahkan orang di luar Kristen pun akan mengatakan Yesus sebagai nabi, Mesias (Almasih) dan Tuhannya orang Kristen. Kalau begitu, apa bedanya kita dengan orang lain?

Mengaku Dengan Mulut Dan Hati
Roma 10:9-10 berkata: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

Maksudnya, mengaku dengan mulut itu penting, tetapi terlebih penting mengaku dengan seluruh kekuatan hati. Itu berarti kita mengimani, bukan sekadar tahu atau ikut kata orang. Mengapa Yesus bertanya, “Menurutmu Siapakah Aku ini?” Karena Yesus mau mengetahui suara hati murid-murid-Nya. Yesus tidak mau merka hidup menurut kata orang lain. Kita tidak bias hidup menurut kata orang, melainkan apa kata hati kita sendiri. Tidak mungkin ketika orang bertanya tentang nama ayah kita, lalu kita menjawab: menurut orang sih Pak Ucup. Atau ketika pacar bertanya apakah kita saying padanya, lalu kita jawab: menurut orang sih, sayang. Saya yakin, tidak akan langsung minta putus. Itulah sebabnya Yesus meminta jawaban sendiri (otentik) dari para murid, menurut isi hati mereka sendiri. Ketika Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus langsung menegaskan bahwa sesungguhnya Allahlah yang telah meneguhkan hal itu di dalam diri Petrus.

Mengapa harus mengaku dengan hati. Mengaku dengan hai berarti meyakini dengan teguh. Kalau kita mengaku mencintai anak-anak kita, berarti kita menyakini dengan teguh mereka menjadi bagian dari hidup kita. Kalau kita mengaku Yesus sebagai Mesias, berarti kita meyakini dengan teguh Yesus adalah Mesias pribadi kita. Ia menjadi bagian yang utuh dalam diri kita. Dengan mengaku di dalam hati, kita tidak lagi takut akan persoalan hidup, karena kita memiliki Mesias pribadi. Kita tidak perlu takut kesepian lagi, karena kita memiliki sahabat sejati. Kita memiliki Pembebas: pembebas dari dosa, kuasa jahat dan sgala jerat dunia yang menyesatkan. Bahkan, kita tidak perlu takut akan masa depan, karena Yesus beserta kita dan akan menjamin kecerahannya.

Kesungguhan hati seseorang tentu saja dapat diuji. Paling tepat diuji dengan kondisi yang sulit. Hasilnya ada 4 tipe:
1. Tipe orang banyak yang mengikuti Tuhan Yesus, yang dengan
spontan beramai-ramai meninggalkan Yesus lalu berbalik
menyerang dan menghakimi Yesus.
2. Tipe kebanyakan murid, yang ketika ancaman datang langsung
melarikan diri. Bahkan memilih melepaskan kain lenannya dan
lari telanjang daripada dikira murid Yesus (Mrk 14:50-52).
3. Tipe Petrus, yang berani ambil resiko. Tetapi tidak tahan lama.
Segera menyangkal ketika ancaman di depan mata.
4. Tipe yang terakhir ialah: sekali mengikut, tetap ikut dan setia
selama-lamanya.

Kita tipe yang mana? Banyak orang kristen mati sebagai martir, banyak juga harus menempuh sengsara demi Kristus, karena mereka percaya Yesus adalah Mesias, tetapi ada juga sebagaian orang kristen yang melepaskan pakaianya dan melarikan diri dengan telanjang. Tetapi Tuhan Yesus mau iman kita kuat di tengah cobaan. Teguh di tengah ancaman. Dia mau jadi pembebas bagi kita: pembebas dr dosa, pembebas dari kebiasaan jahat dan pembebas dari segala ketakutan kita. Yesus mau menjadi Mesias pribadi kita.

Thursday, June 25, 2009

Pilar-pilar Kepemimpinan Unggul

Komitmen
Sejak dini kita harus menanamkan pentingnya kesungguhan dalam menyelesaikan tugas-tanggungjawab. Komitmen kuat dan kesadaran pribadi adalah landasan peningkatan kualitas diri.

Kemitraan
Satu tarikan dalam kebersamaan akan menghasilkan kekuatan berlibat ganda. Kerjasama mesti digalang dengan mitra strategis berlandaskan prinsip kesetaraan untuk menghasilkan sinergi yang positif.

Komunikasi
Dari hati ke hati tulus menjalin kemunikasi untuk mendukung dan berbagi. Dalam menunjang pertumbuhan berkelanjutan senantiasa harus dijalin komunikasi mendalam dengan seluruh pihak.

Keahlian
Keahlian yang terus diasah akan berkembang menjadi profesionalisme sejati. Melalui program pendidikan dan pelatihan, profesionalisme itu akan tumbuh dan berbuah.

Kepedulian
Nilai kepedulian sangat penting , namun sikap pedulilah yang paling membahagiakan. Kualitas pelayanan selalu terus disempurnakan melalui kepedulian mendengar masukan berharga dari orang-orang lain.

Friday, June 19, 2009

Kesusahan Sebagai Kesempatan


(Ayb 38:1-11; 2 Kor 6:1-13; Mrk 4:35-41)

Kesusahan dan sejarah manusia ibarat sebuah lonceng: (1) Antara bandul dengan badan lonceng sangat terkait. Demikianlah pula sesusahan tidak pernah lekang dari perjalanan hidup manusia. Ada sejarah, pasti ada masalah. (2) Ada saat bandul dan badan lonceng berbenturan, menggetarkan dan menimbulkan kebisingan. Demikianlah sejarah manusia sarat dengan penderitaan, kegentaran dan bising dengan jeritan kesusahan. Akan tetapi, (3) tidak selamanya benturan itu berlangsung, karena juga ada saat-saat keteduhannya. Itulah saat ketika beban di pundak kita terangkat, keharmonisan tercipta dan sukacita melimpah.

Hidup Bagaikan Putaran Roda
Saudara, selalu ada titik-titik terbawah putaran roda hidup manusia. Titik ini adalah momen persoalan hidup begitu banyak dan rumit: persoalan keluarga menindih pekerjaan, ditambah soal-tugas gerejawi dan dilengkapi ketegangan personal dengan relasi-relasi lainnya. Kerap juga satu masalah melahirkan turunan-turunannya. Seperti global crisis yang terhambat laju perusahaan Anda, berakibat pada pemutusan hubungan kerja, mengganggu ekonomi keluarga, lalu mengancam pendidikan anak. SPP tidak lunas. Anak malu. Orang tua stress. Akitabnya, tanpa disangka, selalu ada nama baru pada Tribun kolom kriminal. Aduh.

Pengalaman pahit ini juga dirasakan oleh Ayub. Beruntun kesusahan memecutnya hingga tak berdaya. Mulai dari kekayaan yang musnah, anak-anak yang tewas dalam puing-puing rumah, istri yang berbelok setia, dilengkapi lagi dengan sakit barah busuk yang menggatal dari telapak kaki sampai ujung kepala. Begitu dramatis dan tragis.

Dalam kondisi seperti ini tidak banyak yang bertahan. Yang tidak percaya menjadi putus asa. Yang beriman pun bertanya skeptis: Mengapa orang beriman masih juga menderita? Tidak banyak yang bertahan seperti Ayub. Ketika mendengar istrinya menggerutu, Ayub menegur, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayb 2:9-10). Dalam hal ini Ayub bertabah hati. Ia setia.

Memang dari sudut pandang iman, segala sesuatu ada hikmahnya. Dari kasus Ayub, justru dalam penderitaan itulah ia menemukan wajah Allah. Allah menyatakan diri dalam badai. Allah menjawab Ayub dan mencerahkan pikirannya (Ayb 38:1). Perjumpaan dengan Tuhan itu menyadarkan Ayub bahwa Allah sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Nya yang gagal. Ayub akhirnya mengakui bahwa dahulu dari kata orang saja ia mendengar tentang Allah, tetapi sekarang ia memandang Tuhan dengan matanya sendiri. Kesusahan hidup menjadi kesempatan bagi Ayub untuk mengenal Allah lebih mendalam.

Hidup Bagaikan Pelayaran Jauh
Dalam gambaran lain, hidup ini ibarat pelayaran mengarungi samudera. Cuaca serah selalu menenangkan jiwa, yang mengibaratkan keluarga yang harmonis, pekerjaan lancar, kebutuhan terpenuhi dan semua hubungan terjalin akrab. Tetapi juga ada masa di mana ombak begitu tinggi dan perahu kita terhempas tak tentu arah, seperti pengalaman murid-murid Yesus. Hidup terancam. Kita seolah sendirian. Tuhan terasa terdiam seribu kata.

Saudara, memang Tuhan tidak pernah berjanji laut akan selalu cerah, ataupun hidup selalu aman dan nyaman. Gelombang kesusahan dapat datang kapan saja dan kepada siapa saja, termasuk kepada Yesus sendiri. Tetapi melalui peristiwa kapal terhempas ini Yesus hendak memberi pelajaran berharga bahwa (1) Tuhan tidak pernah benar-benar tertidur. Ia mengerti kesusahan para murid. Tetapi Ia mau melihat kedalaman iman kita kepada-Nya. Itu penting bagi-Nya. (2) Tuhan Yesus tidak berdiam atas permohonan murid-Nya. Tuhan mendengar dan datang melihat. Tidak selamanya kita sengsara. Tangan Tuhan akan bekerja dan waktunya selalu tepat. Kita akan diselamatkan, dikuatkan dan ditegapkan kembali. Tuhan berfirman, ”Justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”

Saudara, hari ini kita semakin menyadari bahwa dalam kesulitan Ayub semakin mengenal Allah. Dalam kesusahan para murid melihat kuasa Allah. Dalam penderitaan pulalah Paulus semakin mengerti panggilannya sebagai pelayan yang setia, kawan sekerja Allah dan teladan yang tulus. Di dalam api emas menjadi murni. Bagaimana dengan Saudara?

Friday, June 5, 2009

Karakter Pemimpin Sejati

Saat seseorang memutuskan (baik secara sadar atau tidak) untuk mengikuti kepemimpinan Saudara, keputusan itu terutama karena satu atau dua hal berikut:
Karakter Saudara dan atau Kemampuan Saudara. Setiap orang yang kita temui selalu ingin memastikan apakah Saudara adalah orang yang pantas mereka ikuti, ataukah Saudara memiliki kemampuan untuk membawa mereka pada keberhasilan.

Tentu ada banyak pertimbangan untuk mengikuti kepemimpinan Saudara. Tetapi, di sini kita akan memusatkan perhatian pada pendalaman karakter-karakter yang membuat orang lain akan mengikuti kepemimpinan Saudara. Beberapa karakter utama kepemimpinan ini adalah:

1. Integritas
Integritas adalah kesatuan yang utuh antara yang Saudara katakan dengan yang Saudara lakukan. Integritas membuat Saudara dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan Saudara. Integritas adalah penepatan janji-janji Saudara. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti Saudara adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa Saudara akan membawa mereka menuju ke tujuan yang Saudara janjikan. Apakah Saudara dikenal sebagai seseorang yang mempunyai integritas? Bila ya, maka Saudara sedang menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

2. Optimisme
Takkan ada orang yang mau mengikuti kita bila kita memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik, dan mereka dapat mencapai tempat itu. Apakah Saudara melihat gelas itu separuh kosong? Bila ya, Saudara adalah seorang pesimis. Apakah Saudara melihat gelas itu separuh berisi? Bila ya, Saudara adalah seorang optimis. Apakah Saudara melihatnya sebagai segelas penuh; yaitu separuh berisi air dan separuh lagi berisi udara? Maka Saudara adalah seorang yang super optimis. Apakah Saudara dikenal sebagai seorang yang optimis? Bila ya, Saudara layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

3. Menyukai Perubahan.
Pemimpin adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasikannya dengan para pengikut mereka. Jika Saudara tidak berubah, Saudara takkan bertumbuh. Apakah Saudara dikenal sebagai seseorang yang memicu perubahan? Jika ya, Saudara layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

4. Berani Menghadapi Resiko
Kapan pun kita mencoba sesuatu yang baru, kita mengambil resiko. Keberanian untuk mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting. Kebanyakan orang menghindari resiko. Karena itu, mereka bukan pemimpin. Para pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko. Mereka mengkomunikasikannya pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang lebih baik. Apakah Saudara dikenal sebagai seorang yang berani mengambil resiko? Jika ya, Saudara layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

5. Ulet Bin Tekun
Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang kedua atau ketiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, "Jika Saudara gagal di langkah pertama, menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain." Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha. Apakah Saudara dikenal sebagai seseorang yang ulet, tangguh, dan berdaya tahan tinggi? Jika ya, Saudara layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

6. Katalistis
Seorang pemimpin adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zona kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan gairah, antusiasme, dan tindakan dari para pengikut. Apakah Saudara dikenal seseorang yang mampu menggerakkan orang lain? Jika ya, Saudara layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

7. Berdedikasi Alias Komit
Para pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin yang senantiasa bekerja dan berdedikasi, karena mereka melihat betapa pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan. Apakah Saudara dikenal sebagai seseorang yang komit dan senantiasa mencurahkan perhatian Saudara pada tujuan? Jika ya, Saudara layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.

Friday, May 22, 2009

Menguduskan Nama Allah Dengan Hidup Kudus

(Kis 1:15-17, 21-26; Mzm 1; 1 Yoh 5:9-13; Yoh 17:6-19)

Bagi bangsa Israel, nama bukanlah sekadar sebutan, panggilan atau tanda pengenal; tetapi menyatakan sifat, karakter atau kepribadian yang memilikinya (bdk 1 Sam 25:25). Setiap nama orang Israel mengandung makna dan pesan pengalaman iman yang sangat khusus. Lalu bagaimana dengan nama Ucok, Slamet, Kanti, Rina, Sipayung atau Horas? Apa maknanya? Soal ini tanyalah pada empunya nama! Yang pasti orangtua memberi nama sesuai pengalaman dan harapan yang tersirat di dalam hati mereka.

Demikian pula sebutan dan nama Allah selalu menggambarkan jatidiri Allah sendiri. Sehingga "menguduskan nama Allah" selalu berarti memuliakan dan meninggikan jatidiri Allah. Itulah sebabnya setiap nabi selalu mengajak umat untuk senantiasa menguduskan nama Allah; bukan saja dengan ucapan, tetapi terlebih dengan hati dan hidup kudus. Tidak cukup dengan berseru: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan!" (bdk Yes 6:3; Why 4:8), melainkan dengan berbuat baik dalam hidup sehari-hari (bdk Mat 7:21; 2 Tes 3:13; Yak 2:14).

Konon Tolstoy, penulis terkenal Rusia, memiliki sebuah pengalaman kecil yang menarik. Suatu hari seorang pengemis menadahkan tangan kepadanya mengharap uang recehan. Setelah Tolstoy merogoh saku ternyata ia tidak membawa uang sama sekali. Maka ia berkata kepada pengemis itu: “Jangan marah Saudara, Saya sama sekali tidak membawa uang untuk Saudara.” Wajah pengemis itu sangat berseri ketika berkata: “Tapi bapak sudah panggil Saudara kepada Saya, itu adalah hadiah yang sangat besar!”.

Kita memang tidak tahu apakah sikap baik hati kedua orang di atas karena imannya kepada Tuhan Yesus. Namun rasanya tidak banyak orang seperti mereka; dengan kepedulian, keramahan, keterbukaan dan ketulusan berkata sebagai bentuk penghargaan. Kalau kita tersadar, malah banyak orang yang lama dekat dengan Tuhan, namun tidak memiliki sikap hati seperti itu. Tengok Yudas. Setiap hari hidup bersama Tuhan Yesus. Melihat mukjizat-Nya dengan mata kepala sendiri. Namun Yudas tidak banyak berubah. Hatinya tetap keras. Pikirannya tetap jahat. Hal ini sama fatalnya dengan orang yang mengaku telah mengenal Tuhan, namun suka melakukan kekejian layaknya teroris. Inikah jalan menguduskan nama Allah?

Mari belajar pada Yesus. Dari sudut insani, Kristus telah mempermuliakan nama Allah secara sempurna dan total, yaitu dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan Allah kepada-Nya. Di Yoh 17:4, Tuhan Yesus berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya”. Sikap pengudusan nama Allah senantiasa diwujudkan dalam karya yang mempermuliakan Allah. Sebagai manusia, Yesus berkarya dan karya-Nya itu mampu memulihkan hubungan Allah dengan manusia lewat pengurbanan dan kematian-Nya.

Dari sudut ilahi, Kristus adalah satu-satunya pribadi ilahi yang ditetapkan Allah sebagai penyata nama Allah. Manakala Kristus disebut sebagai penyata nama allah, maka maksudnya adalah bahwa Tuhan Yesus adalah penyata diri Allah. Melalui hidup dan karyanya, manusia dapat melihat kehadiran Sang “YHWH”. Di Yoh. 14:7, Tuhan Yesus berkata: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia". Kristus menyatakan ke-diri-an Allah melalui seluruh sifat, karakter, rencana dan karyanya. Pada saat seseorang melihat Yesus, maka pada saat itu juga dia telah melihat Allah Pengasih.

Bagaimana dengan kita? Saudara, Allah itu kudus, sehingga kita dipanggil untuk hidup kudus di hadapan-Nya. Tanpa kekudusan, maka kita tidak diperkenankan untuk memandang dan berjumpa dengan Allah. Di Mat 5:8, Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”. Karena itu panggilan setiap umat percaya adalah terus-menerus membangun iman dan kasihnya di atas kekudusan.
Kekudusan selalu bersifat membebaskan dan menyelamatkan, melalui tindakan yang adil, benar dan dalam perbuatan-perbuatan baik. Menurut Mzm 1, seyogyanya kita bagaikan pohon yang ditanam dekat Sumber Air Hidup, yang selalu menghasilkan buah-buah manis untuk dinikmati semua orang. Berjuanglah. Immanuel. Amin

Tuesday, May 19, 2009

Kasih Seorang Sahabat

(Kis 10:44-48; Yoh 15:9-17)

Pembukaan
Sebenarnya ada ratusan buku dan film yang telah mengupas betapa indahnya memiliki sahabat sejati ataupun betapa sakitnya hati dikhianati orang kepercayaan sendiri. Seperti warna-warni persahabatan yang disajikan film remaja “kepompong”. Dalam lirik soundtracknya saja sudah kaya pesan “Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. Persahabatan itu menakjubkan. Persahabatan itu menutupi kejijikan, tidak suka mengumbar kejelekan, tetapi melahirkan segala kebaikan hidup, menjadikan hidup lebih indah dan lebih berharga.

Pola Persahabatan Manusia
Tetapi, ternyata mencari sahabat sejati bukan perkara mudah. Sangat sulit. Mengapa? Karena setiap orang punya kriteria dan syaratnya tersendiri. Jangan hitam, jangan putih, mesti punya mobil, mesti cantik, tampan, berkaki empat, sederajat… Mesti ini…. Mesti begitu… jangan begini… Kalau dilist, bisa melebihi panjangnya daftar belanjaan ke pasar. Itulah sebabnya jumlah sahabat kita sangat sedikit dibanding banyaknya teman yang kita miliki. Kasih yang dimiliki manusia terlalu memilih-milih. Dengan kata lain kita terlalu pilih kasih. Rasanya kita perlu pencerahan: Kalau kasih sudah memilih-milih, apakah itu masih kasih namanya?

Tetapi, berbanding terbalik dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak pernah membatasi diri dalam bersahabat. Tidak pernah pasang label-label syarat. Tidak pernah menolak yang mendekat, tidak pernah menghalangi siapapun yang mau bersahabat, tidak mesti seorang pejabat, dan Dia selalu menunjukkan kasih seorang sahabat kepada siapapun yang ditemuinya. Bahkan menurut pengalaman Petrus, Kristus tidak saja mau bersahabat dengan para murid, tetapi juga dengan semua orang, termasuk orang-orang asing. Bangsa-bangsa lain yang dianggap kafir dan yang sering tidak mauk hitungan. Namun mereka juga dilayakkan kasih dan curahan Roh Kehidupan.

Biasanya prinsip manusia modern berbunyi begini: Di dunia ini tidak ada teman sejati, yang ada adalah kepentingan sejati. Ngeri yach... Itulah sebabnya dunia politik tidak pernah tidur, selalu memanas dan penuh gejolak. Demi kepentingan, persahabatan bisa hancur. Partai terbagi tiga. Koalisi berantakan. Perusahaan seperti mainan yang diperebutkan antar saudara. Demi kepentingan gereja juga bisa ribut. Kawan menikam dari belakang. Saling menghujat. Dan sebagainya. Inilah yang terjadi kalau kita kehilangan kasih Allah, tak ada kasih seorang sahabat.

Bunda Teresa pernah berkata, “Penyakit yang paling parah di dunia ini bukanlah kusta, kanker, jantung ataupun typhus, melainkan hidup tanpa kasih.” Penyakit yang paling menyakitkan bukanlah penyakit fisik, melainkan penyakit hati yang hampa kasih sayang. Pada jadinya rumah tangga tanpa kasih, sekolah tanpa kasih dan gereja tanpa kasih? Hidup tanpa kasih ibarat dunia tanpa mentari, gelap gulita, hampa dan tidak berwarna. Tetapi dengan kasih, di rumah sakit orang menemukan arti hidup. Di panti, dengan kasih panti asuhan melebihi damainya istana raja.

Allah Bersahabat dengan Manusia
Sebuah penerbitan di Inggris pernah mengadakan sayembara definisi terbaik tentang persahabatan. Banyak orang yang ikut. Ada yang mengatakan sahabat adalah orang yang selalu mengerti kita. Ada juga yang mendefinisikan sahabat adalah orang yang menambah sukacita kita dan membagi kesedihan kita. Tetapi definisi yang memenangkan sayembara itu berbunyi sahabat adalah seseorang yang mendekat di saat dunia menjauh darimu!

Pengertian ini begitu mendalam bahwa kasih seorang sahabat tidak saja nampak di saat kita bersukacita, tetapi juga saat dunia terasa menimpa kita. Bukan kita senang dia datang, kita susah dia pergi. Tetapi justru dia mendekat di kala dunia sedang menjauhi kita. Menurut Ams 17:17, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Seorang sahabat peduli setiap saat. Dia tulus dan bahagia saat kita berhasil, dan selalu menghibur saat kita putus asa. Ketika kita mengalami kesulitan, ia seperti saudara yang selalu menopang dan menolong sedemikian rupa.

Rasanya memang sulit menemukan sahabat yang demikian. Tetapi inilah gambaran kasih yang telah ditunjukkan Allah kepada manusia. Sejak awal Injil Yohanes telah menegaskan bahwa Kristus adalah inkarnasi Allah (Allah yang menjelma menjadi manusia). Firman hidup yang menjadi daging. Kasih Allah yang mewujud dalam rupa insani. Di dalam Kristus kita melihat Allah yang mau bersahabat dengan manusia. Yang Kudus menghampiri orang berdosa. Yang Mulia tinggal bersama orang bernoda.

Tetapi Tuhan Yesus tidak main-main. Dia tidak hanya mengajar, tetapi selalu membuktikan apa yang dikatakan-Nya. Membuktikan bagaimana berperan sebagai seorang sahabat sejati. Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Seorang sahabat sejati tidak akan mengorbankan orang lain agar dirinya selamat. Sebaliknya, seorang sahabat selalu bersedia mengorbankan dirinya sendiri, demi keselamatan sahabat-sahabatnya. Pengorbanan sahabat pertama: pengenalan yang mendalam. Kedua, selalu ada untuk sahabat. Ketiga, selalu memberi yang terbaik untuk sahabat. Tentu saja pengorbanan ini lahir dari dasar kasih, kasih yang hidup, kasih yang meluap dan selalu ingin tercurah lewat tindakan yang nyata. Tanpa kasih, kita tidak mungkin menjadi sahabat sejati.

Budak menjadi Sahabat Allah
Lagi-lagi mungkin kita bertanya, apa untungnya menjadi sahabat Yesus? Apa istimewanya? Seorang sahabat sejati tidak pernah mengungkit-ungkit kesalahan kita. Demikian pula Kristus, tidak lagi menghitung-hitung besarnya dosa kita. Sejauh timur dari barat demikianlah ia membuang dosa kita, sejauh langit dari bumi demikianlah ia melempar kesalahan kita. Ketika kita membuka diri menyambut kerinduan Tuhan, kita tidak lagi disebut-Nya hamba atau budak, melainkan sahabat kekasih. Lebih dari pada itu, Ia malah menceritakan kepada kita segala rencana hati-Nya, yang sedang mengerjakan keselamatan dan hidup kekal bagi kita. Kita menjadi orang-orang yang berpengharapan. Orang yang berbahagia karena dikasihi sang pencipta. Pengorbanan-Nya bagi kita sahabat-sahabat-Nya adalah pengorbanan yang menebus, kasih yang menyelamatkan.

Bagaimana dengan Kita?
Bila Kristus telah mau solider dengan kita, dan memperlakukan kita sebagai saudara-Nya, bagaimana dengan kita? Maukah kita juga memperlakukan sesama kita seperti sahabat kita sendiri? Jika Kristus telah menunjukkan kasih sejati seorang sahabat, bagaimana dengan kita? Maukah kita belajar memiliki kasih seperti itu? Tahukah Saudara bahwa hanya dengan demikian maka kita akan semakin dibentuk, untuk menjadi saudara bagi Kristus.

Dikisahkan seorang raja yang memiliki musuh besar. Berulangkali musuh tersebut mencoba menyerang sang raja tersebut. Karena itu panglima perang dan pimpinan pasukan selalu bersiap diri menghadapi serangan dari lawan tersebut. Tetapi yang mengherankan, suatu hari sang raja justru mengundang sang lawan makan bersama dalam sebuah jamuan besar. Usai jamuan itu, panglima bertanya, mengapa raja justru mengundang musuh tersebut makan bersama. Raja menjawab, “Tenanglah, aku telah mengalahkan musuh kita dan mengubahnya menjadi sahabat kita. Jadi kita tidak perlu berperang lagi”.

Bagaimana dengan kita? Apakah kehidupan kita dipenuhi oleh kasih Kristus sehingga kita mampu mengubah setiap lawan menjadi para sahabat kita? Apakah kita mampu memperlakukan semua orang sebagai sahabat kita dan mengarahkan mereka untuk berpegang kepada nilai-nilai kebenaran dan keadilan? Berbahagialah jikalau lingkup persahabatan kita selalu meluas dan menerobos tembok-tembok pemisah, sehingga semakin banyak orang yang mengenal kasih Kristus.

Friday, May 8, 2009

Karakter Pemimpin: Modal Dasar

Saya yakin Saudara pasti pernah melihat atau dapat membayangkan sebuah gunung es di tengah laut. Sadarkah Saudara bahwa gunung es yang nampak di permukaan air itu hanyalah 10 persen saja, sementara 90 persennya ada di bawah permukaan laut. Dan, justru yang membuat kapal tenggelam adalah bagian bawahnya, yang seringkali tidak terlihat atau tersadari oleh kita.

Dalam analogi kepemimpinan, gunung es adalah gambaran yang menarik. Bagian yang 10 % itu menggambarkan keahlian kita, sementara yang 90% adalah karakter diri kita. Yang seringkali menghancurkan dan menenggelamkan diri kita bukanlah keahlian yang kita miliki, melainkan karakter diri kita sendiri. Pemimpin tanpa karakter yang kuat ibarat pohon besar tanpa akar yang kokoh, mudah tumbang dalam badai dunia.

Sembilan puluh persen dari kepemimpinan kita dibentuk oleh karakter. Karakter ini adalah jumlah total dari:
Disiplin Diri: kemampuan melakukan apa yang benar meskipun kita merasa tidak ingin melakukannya
Nilai-nilai Inti: prinsip-prinsip yang kita jalani yang memampukan kita untuk memiliki pegangan moral.
Kesadaran Identitas: gambaran diri yang realistis berdasarkan maksud Allah menciptakan kita
Keamanan Emosional: kapasitas untuk menjadi stabil secara emosional serta konsisten.

Banyak orang berusaha mengejar yang kelihatan, namun mengabaikan karakter diri sendiri. Keahlian mungkin membawa kita ke puncak prestasi, tetapi karakterlah yang membuat kita tetap bertahan di sana. Jika kita tidak memiliki karakter yang kuat, pada akhirnya kita sendirilah yang akan menghancurkan prestasi dan kepemimpinan kita.

Karakter yang lemah mungkin dimulai dengan kebohongan dan kebiasaan buruk yang kecil. Kemudian berkembang menciptakan penipuan, perampokan, kejahatan niat dan skandal kekerasan. Orang modern hanya menghabiskan 10 persen waktunya untuk mencapai 90 persen karakternya. Tetapi Yesus Kristus menghabiskan 90 persen waktunya untuk membentuk karakternya, untuk siap melakukan 10 persen dari apa yang membentuk kariernya.

Kita cenderung berada dalam situasi yang terburu-buru untuk mencapai produktivitas kerja, tetapi kita kerap lupa mempertahankan kehidupan karakter, dan gagal secara moral di sepanjang jalan. Berita buruknya adalah bagian yang berada di bawah permukaan airlah yang membuat kapal tenggelam. Karakter yang lemah pada akhirnya akan menghancurkan kemampuan kita memimpin. Berita baiknya adalah bagian yang di bawah justru akan menopang puncak gunung es tetap menjulang. Demikian pula karakter akan tetap mendukung keahlian kita untuk mencapai puncak tertinggi prestasi kehidupan kita. Keep Struggle.
Sabe Satta Bhavantu Shukitatta