Kesusahan dan sejarah manusia ibarat sebuah lonceng: (1) Antara bandul dengan badan lonceng sangat terkait. Demikianlah pula sesusahan tidak pernah lekang dari perjalanan hidup manusia.
Hidup Bagaikan Putaran Roda
Saudara, selalu ada titik-titik terbawah putaran roda hidup manusia. Titik ini adalah momen persoalan hidup begitu banyak dan rumit: persoalan keluarga menindih pekerjaan, ditambah soal-tugas gerejawi dan dilengkapi ketegangan personal dengan relasi-relasi lainnya. Kerap juga satu masalah melahirkan turunan-turunannya. Seperti global crisis yang terhambat laju perusahaan Anda, berakibat pada pemutusan hubungan kerja, mengganggu ekonomi keluarga, lalu mengancam pendidikan anak. SPP tidak lunas. Anak malu. Orang tua stress. Akitabnya, tanpa disangka, selalu ada nama baru pada Tribun kolom kriminal. Aduh.
Pengalaman pahit ini juga dirasakan oleh Ayub. Beruntun kesusahan memecutnya hingga tak berdaya. Mulai dari kekayaan yang musnah, anak-anak yang tewas dalam puing-puing rumah, istri yang berbelok setia, dilengkapi lagi dengan sakit barah busuk yang menggatal dari telapak kaki sampai ujung kepala. Begitu dramatis dan tragis.
Dalam kondisi seperti ini tidak banyak yang bertahan. Yang tidak percaya menjadi putus asa. Yang beriman pun bertanya skeptis: Mengapa orang beriman masih juga menderita? Tidak banyak yang bertahan seperti Ayub. Ketika mendengar istrinya menggerutu, Ayub menegur, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayb 2:9-10). Dalam hal ini Ayub bertabah hati. Ia setia.
Memang dari sudut pandang iman, segala sesuatu ada hikmahnya. Dari kasus Ayub, justru dalam penderitaan itulah ia menemukan wajah Allah. Allah menyatakan diri dalam badai. Allah menjawab Ayub dan mencerahkan pikirannya (Ayb 38:1). Perjumpaan dengan Tuhan itu menyadarkan Ayub bahwa Allah sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Nya yang gagal. Ayub akhirnya mengakui bahwa dahulu dari kata orang saja ia mendengar tentang Allah, tetapi sekarang ia memandang Tuhan dengan matanya sendiri. Kesusahan hidup menjadi kesempatan bagi Ayub untuk mengenal Allah lebih mendalam.
Hidup Bagaikan Pelayaran Jauh
Dalam gambaran lain, hidup ini ibarat pelayaran mengarungi samudera. Cuaca serah selalu menenangkan jiwa, yang mengibaratkan keluarga yang harmonis, pekerjaan lancar, kebutuhan terpenuhi dan semua hubungan terjalin akrab. Tetapi juga ada masa di mana ombak begitu tinggi dan perahu kita terhempas tak tentu arah, seperti pengalaman murid-murid Yesus. Hidup terancam. Kita seolah sendirian. Tuhan terasa terdiam seribu kata.
Saudara, memang Tuhan tidak pernah berjanji laut akan selalu cerah, ataupun hidup selalu aman dan nyaman. Gelombang kesusahan dapat datang kapan saja dan kepada siapa saja, termasuk kepada Yesus sendiri. Tetapi melalui peristiwa kapal terhempas ini Yesus hendak memberi pelajaran berharga bahwa (1) Tuhan tidak pernah benar-benar tertidur. Ia mengerti kesusahan para murid.
Saudara, hari ini kita semakin menyadari bahwa dalam kesulitan Ayub semakin mengenal Allah. Dalam kesusahan para murid melihat kuasa Allah. Dalam penderitaan pulalah Paulus semakin mengerti panggilannya sebagai pelayan yang setia, kawan sekerja Allah dan teladan yang tulus. Di dalam api emas menjadi murni. Bagaimana dengan Saudara?
No comments:
Post a Comment