Beberapa waktu lalu ada tayangan di televisi yang mengupas rahasia hidup sekelompok relawan yang melayani orang-orang buta. Berbeda dengan bentuk pelayanan yang umum, para relawan ini memberikan salah satu biji mata mereka untuk didonorkan kepada orang-orang buta. Dengan berbuat demikian mereka berbagi penglihatan kepada orang-orang yang tidak pernah melihat rupa dunia ini, sehingga juga dapat menikmati keindahan semesta alam. Mereka berbagi cahaya kepada yang gelap, sehingga yang tidak punya asa kembali memiliki harapan akan hari esok yang lebih indah.
Wajar kita mengajukan pertanyaan, “Kok bisa? Bagaimana para relawan ini bisa sampai pada penghayatan hidup yang demikian?” Satu hal yang jelas ialah mereka hidup tidak lagi berorientasi pada diri sendiri. Mereka hidup untuk dan demi kehidupan orang lain. Dan, sudah barang tentu penghayatan hidup seperti ini didasari oleh pemaknaan teologis yang mendalam, yakni bagaimana Tuhan digeluti dalam iman yang mengubah hidup menjadi lebih berarti. Memakai istilah Paulus, hidup yang demikian ini adalah hidup manusia yang baru.
Istilah lama-baru, terang-gelap dan tua-muda adalah khas analogi Paulus, yang menggambarkan dua fase kerohanian manusia yang saling bertolakbelakang. Manusia lama diwakili oleh karakter kedagingan yang penuh dengan kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, perseteruan, iri hati, amarah, pementingan diri sendiri, kemabukan, dll (Gal 5:19-21). Sebaliknya, manusia baru diwakili oleh karakter manusia yang penuh dengan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal 5:22-23). Maksud Paulus, umat percaya perlu mengoreksi dan mengevaluasi dirinya masing-masing dengan mengamati roh-karakter apa yang menggerakkan kehidupan mereka. Jikalau iri hati, pementingan diri sendiri dan amarah masih menjadi tabiat orang percaya dan jikalau roh penyembahan berhala, roh perseteruan dan roh hawa nafsu masih menguasai mereka, sesungguhnya mereka harus dibaharui.
Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa (Rm 6:6). Dengan kalimat tersebut Paulus menegaskan bahwa pilihan orang percaya sesungguhnya tidak lebih daripada satu, yakni hidup sebagai manusia yang baharu. Di dalam Kristus tidak ada lagi manusia lama, sebab hidup kedagingan kita telah disalibkan bersama kematian Kristus. Sebab siapa telah mati di dalam Kristus, ia pun telah bebas dari dosa. Jadi, mengikut Kristus senada dengan meninggalkan tabiat lama yang penuh dosa. Jikalau dihayati dengan mendalam, baptisan adalah tanda pembaharuan itu.
Oleh karena itu:
Pandanglah hari ini, sebab kinilah realitas sesungguhnya
Kemarin hanyalah impian, esok hanyalah bayangan
Tetapi kini adalah kenyataan eksistensimu
Tabiat buruk mengelamkan masa lalu,
Demikian mengeruhkan masa kini
Terlebih menghilangkan masa depan
Tiada untungnya manusia lama itu
Jadi buatlah dia menjadi baru:
Kata bijak, hati tulus, laku elok, kaki lurus
Maka
Yang kemarin akan menjadi impian bahagia
Dan esok menjadi bayangan yang berpengharapan
Kemarin hanyalah impian, esok hanyalah bayangan
Tetapi kini adalah kenyataan eksistensimu
Tabiat buruk mengelamkan masa lalu,
Demikian mengeruhkan masa kini
Terlebih menghilangkan masa depan
Tiada untungnya manusia lama itu
Jadi buatlah dia menjadi baru:
Kata bijak, hati tulus, laku elok, kaki lurus
Maka
Yang kemarin akan menjadi impian bahagia
Dan esok menjadi bayangan yang berpengharapan
No comments:
Post a Comment