Tuesday, March 10, 2009

MENJAWAB PANGGILAN TUHAN

Pengantar
Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata ‘panggilan’? Siapa yang pertama kali Anda bayangkan? Orang lain? Diri sendiri? Atau Tuhan? Bahasan ini sangat mendasar, kesadaran akan adanya panggilan dalam diri kita akan menggiring kita kepada suatu jalan hidup yang lain. Menyadari dengan tepat panggilan pribadi kita di hadapan Tuhan akan menentukan pola hidup, tujuan dan arah perjalanan hidup kita. Dalam bagian ini, sebagai kaum muda-mudi gereja, kita diharapkan mampu menyadari adanya panggilan Tuhan ini atas diri kita dan menjawabnya dengan kesungguhan hati demi kemuliaan nama Tuhan dan pertumbuhan iman bersama.

Pemuda dan Pelayanan Gereja
Setiap gereja yang didirikan Tuhan pasti terdiri atas pribadi-pribadi yang dipanggil oleh Tuhan. Tentu saja di dalamnya termasuk pemuda-pemuda gereja. Mereka dipanggil ke luar dari keduniawian dan masuk ke dalam Kristus. Sebagai contoh, Paulus mengatakan bahwa seluruh anggota jemaat di Roma dan Korintus juga dipanggil oleh Kristus dalam pelayanan-Nya (Roma 1:6; 1 Korintus 7:22). Ini adalah pelayanan yang harus dilakukan setiap orang Kristen.

Pemuda adalah orang-orang yang energik, kreatif dan penuh semangat dalam melakukan perubahan. Kita bisa membayangkan betapa kurang lengkapnya gereja tanpa kehadiran dan partisipasi pemuda-pemudi. Tidak dapat disangkal bahwa dinamika sebuah gereja akan jauh lebih hidup dengan kehadiran dan keaktifan pemuda-pemudanya. Gereja-gereja di Barat sekarang ini banyak yang menjadi museum-museum bisu, yang tidak memiliki masa depan, karena nihil pemuda-pemuda penerus perkembangannya.

Dengan demikian, benarlah bunyi semboyan nasional bahwa “Pemuda adalah tulang punggung bangsa”, yang menegaskan bahwa pemuda memiliki posisi dan fungsi yang sangat sentral dalam kehidupan berbangsa. Demikian pula hidup bergereja. Pemuda adalah tulang punggung gereja. “Tulang punggung” di sini menggambarkan perannya sebagai penegak, penyokong, penopang berdirinya gereja di tengah-tengah dunia. Kalau pemudanya loyo, maka layulah hidup bergereja. Namun, kita harus mengingat bahwa kepalanya tetaplah Kristus sendiri, yang mendirikan dan menumbuhkan gereja itu sendiri.

Setiap Orang Memiliki Panggilan?
Paulus dengan tegas mengatakan bahwa setiap orang memiliki panggilan dalam dirinya masing-masing. Pada intinya, Tuhan memanggil kita untuk melakukan dua hal besar dalam hidup ini:




  1. Dipanggil untuk mengikut Tuhan dengan setia. Panggilan Yesus pertama-tama kepada para murid adalah “Mari, ikutlah Aku” (Mat 4:19; 8:12; 9:9; 19:21). Dia tidak berkata, “Belajar dululah, setelah pitar, setelah ahli, setelah banyak keterampilan, baru setelah ikutlah Aku”. Allah telah mengasihi kamu dengan segenap hati dan hidup-Nya, sekarang kita diminta untuk mengasihi dengan segenap hati dan hidup kita. Kata Yesus: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37)

  2. Dipanggil untuk melayani. Orang-orang yang mengasihi Tuhan selalu terpanggil untuk melayani Tuhan dan gerejanya. Seperti yang dikatakan rasul Paulus bahwa setiap orang dipanggil oleh Kristus dalam pelayanan-Nya. “Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus” (Ef. 1:6). Tidak seorang pun bisa berdalih bahwa ia tidak dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan. Semua anak Tuhan adalah pelayan Tuhan.
Apa Istimewanya Panggilan itu?
Panggilan untuk mengikut dan melayani Tuhan adalah panggilan yang istimewa. Istimewa karena pertama, panggilan itu datangnya bukan karena manusia, dan juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah. Paulus meyakini bahwa panggilannya sebagai seorang Rasul, utusan dan pelayan Kristus, bukan datang dari dan oleh manusia, melainkan oleh sebab Kristus sendiri yang menghendakinya. Katanya, “Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia…” (Galatia 1:1). Ini menunjukkan asalnya atau datangnya panggilan itu bukan dari manusia. Bukan manusia yang menetapkan kita menjadi pelayan-Nya. Bukan manusia yang menetapkan Paulus menjadi Rasul-Nya. Juga bukan dirinya sendiri atau rasul-rasul lain atau orang Kristen lain yang menetapkan dirinya menjadi rasul. Melainkan semata karena Allah yang menetapkan-Nya, karena Allahlah yang memanggilnya dan meneguhkannya.


Kedua, Paulus mengatakan bahwa pelayanan ini bukan demi dan untuk manusia, melainkan semata demi kemuliaan Allah. Pelayanan ini ekspresi iman kita pribadi kepada Allah, atas keselamatan yang telah diberikan-Nya kepada kita di dalam Kristus Yesus. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Dengan demikian jelas bahwa panggilan pelayanan adalah wujud respon kita kepada karya keselamatan Allah dan demi kemuliaan Allah, bukan demi atau untuk manusia.

Mungkin cara Tuhan memanggil kita tidak seperti cara Tuhan memanggil Paulus. Kita dipanggil memang bukan dengan cahaya yang terang benderang, angin taufan ataupun di tengah-tengah gempa bumi yang dahsyat. Namun ketika kita dinyatakan sebagai umat yang ditebus, pada saat yang sama kita menyatakan diri sebagai pengikut dan pelayan Allah. Panggilan itu kemudian dapat terus diteguhkan lewat bisikan Roh Kudus ataupun lewat peristiwa-peristiwa nyata hidup kita. Bisikan Roh Kudus untuk mengikut dan melayani dengan setia ini mempunyai daya penakluk yang tidak bisa dibantah, karena ke mana pun kita pergi, bisikan ini akan terus mengikuti, sampai kita benar-benar taat.

Realitas yang biasa ditemukan
Banyak orang Kristen berpikir bahwa panggilan untuk melayani Tuhan hanya berlaku bagi mereka yang melayani "full-time", yaitu para pendeta dan para penatua. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen awam, banyak yang berpendapat bahwa diri tidak perlu bergumul memikirkan apakah dirinya memiliki panggilan Tuhan atau tidak. Akibatnya, seringkali manusia memakai alasan tertentu untuk menolak menjalankan panggilan Tuhan dalam tugas yang akan dipercayakan kepadanya oleh Tuhan. Alasan ini berangkat dari beragam pokok:
  1. Dirinya dipakai sebagai alasan penolakan. Siapakah aku ini, masih muda, nggak pandai bicara, nggak pandai, nggak berani, nggak ada pengalaman, masih gatek soal struktur gereja, masih gagap soal alkitab, masih sibuk kerja, belum mapan, dsb. Tetapi Firman Tuhan berkata, “Ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti"

  2. Lingkungan yang akan dituju, sebagai alasan penolakan. Seperti Musa, awalnya berkata kepada Tuhan: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku?" Namun alasan ini TUHAN patahkan dengan Jawaban-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau?”

  3. TUHAN disalahkan, karena menciptakan kita dengan segala kekurangan kita. "Kenapa Engkau membuat aku tidak pandai bicara, tidak memiliki keberanian, Engkau membuat aku miskin, tidak berpengetahuan".
Kita harus ingat bahwa dalam memanggil orang-orang yang dipilih-Nya, Tuhan tidak menuntut orang yang bisa dan mampu, tetapi mencari orang-orang yang mau: mau belajar, mau taat, mau memberi waktu, mau melayani, mau dibentuk seturut kehendak-Nya. Dengan demikian, keberhasilan dalam menjalankan pelayanan bukan terletak pada siapa kita, atau sejauhmana kekuatan dan kepintaran kita, namun semuanya terletak kepada Penyertaan dan Kuasa Allah dalam pelayanan Kita. Terletak pada sejauh mana kita mau memberikan diri dipimpin oleh Tuhan.

Bagaimana Menjawab Panggilan Tuhan?
Untuk menjadi seorang pilot, kita harus belajar secara formal. Kita juga harus bersekolah untuk menjadi seorang arsitek, tetapi tidak ada pelatihan atau sekolah yang mengajarkan pada kita bagaimana caranya mengambil keputusan. Namun demikian ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam mengambil keputusan menjawam panggilan Tuhan:

  1. Keputusan yang benar tidak mesti dikaitkan dengan bagaimana orang lain melihat diri kita. Kecenderungan manusia dalam mengambil keputusan kerapkali ditentukan apa kata orang lain terhadap diri kita. Kita ingin agar orang melihat kita sesuai dengan citra diri mereka. Dalam menjawab panggilannya, Paulus tidak terlebih dahulu minta pendapat teman-temannya, saudaranya ataupun orang lain, karena jawaban itu sesungguhnya lahir dari imannya secara pribadi.
  2. Keputusan yang benar didasari sumber yang benar. Paulus bertemu dengan orang yang benar, yaitu Ananias, yang telah diutus Allah sebenarnya.
  3. Keputusan yang benar berpijak pada konsep kasih Allah. Menjawab panggilan itu harus didasari ras cinta kepada Allah, bukan semata-mata karena desakan orang lain ataupun kepentingan-kepentingan pribadi. Harus didasari niat yang baik dan tulus untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi Tuhan.
  4. Apapun keputusan yang kita ambil harus berdampak baik kepada lingkungan atau diri kita sendiri. Harus ada targetan yang ingin kita lakukan dalam menjawab panggilan Tuhan.
Di mana Saya Mulai Melayani?
Sesungguhnya Allah memanggil kita untuk melayani di mana saja kita ditempatkan. Memang ada banyak macam pelayanan yang bisa kita lakukan sebagai wujud jawaban panggilan kita pribadi. Namun Allah memanggil setiap orang untuk secara aktif ambil bagian dalam pelayanan-pelayanan gerejawi. Di gereja ada banyak lahan yang harus digarap, tetapi kurang penggarap dan penuai. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” ( Mat 9:37 – 38 )

Saat ini Tuhan memanggil pemuda-pemuda untuk melayani-Nya di tengah-tengah gereja-Nya. Gereja butuh pembaharu-pembaharu untuk pertumbuhan gereja. Siapkah Anda? Beranikah Anda seperti Yesaya menjawab panggilan Tuhan dengan berkata “Ini Aku, utuslah Aku”.

No comments:

Post a Comment

Sabe Satta Bhavantu Shukitatta