Tuesday, March 17, 2009

Mengetahui Kehendak Allah

Mengetahui Kehendak Allah

Pengantar
Istilah kehendak Allah tampaknya sama sekali tidak lagi asing di telinga kita, amat sering terdengar di dalam doa ataupun dalam setiap bahasan firman Tuhan. Kerap mudah bagi kita untuk mengatakan sesuatu hal atau peristiwa sebagai kehendak Tuhan dan yang lain lawan dari kehendak-Nya. Bahkan, banyak orang mengatakan bahwa ia telah mengetahui dan sedang melakukan kehendak Allah dalam hidup mereka. Tetapi, tidak sedikit juga dari antara kita yang dahulu mengatakan melakukan kehendak Allah ternyata di kemudian hari kita sadari bahwa itu bukanlahlah kehendak Allah, melainkan kehendak diri kita sendiri. Dalam hal ini, kita sedang berusaha jujur kalau kita ternyata telah gagal memahami kehendak Allah.

Mengetahui kehendak Allah adalah hikmat yang tertinggi, karena kita sedang berusaha menggali dan memahami isi hati Allah. Usaha ini memang tidak semudah mengetahui kehendak manusia, karena faktor (1) transendensi Allah (jarak yang sangat jauh antara manusia dengan Allah), (2) komunikasi yang tidak memungkinkan untuk tatap muka (face to face), sehingga selalu bersifat satu arah saat kita berdoa atau mendengarkan pemberitaan firman, dan (3) sulitnya membedakan kehendak Allah antara dengan kehendak diri kita sendiri. Namun demikian, bukan berarti kita tidak dapat sampai pada hikmat yang tertinggi itu, hanya butuh kesediaan diri yang lebih.

Dua Jenis Kehendak Allah
Ulangan 29:29 menjelaskan bahwa ada dua jenis kehendak Allah, yaitu (1) kehendak Allah yang tersembunyi dan (2) kehendak Allah yang dibukakan. Kehendak Allah yang tersembunyi artinya kehendak yang hanya Allah sendiri saja yang mengetahuinya, tidak oleh manusia ataupun malaikat Allah sendiri. Contoh yang dapat disebutkan antara lain tentang kedatangan Kristus yang kedua kali dan hari akhir zaman. Sementara kehendak Allah yang dibukakan berarti kehendak Allah yang telah dinyatakan kepada manusia, seperti yang tertulis di dalam Alkitab ataupun yang dibukakan lewat pengalaman-pengalaman hidup beriman kita dengan-Nya.

Biasanya banyak orang mengejar dan ingin mendapatkan yang pertama. Manusia selalu berambisi ingin membongkar seluruh isi hati Allah. Akibatnya, banyak orang yang terang-terangan mengumumkan telah menemukan waktu hari kiamat, lengkap dengan tahun, bulan, hari dan jam terjadinya. Akhirnya, karena memang hanya Allah yang tahu, manusia gagal dan salah dengan prediksinya dan tidak sedikit yang berujung pada malapetaka massal suicide (bunuh diri masal). Padahal justru yang dibutuhkan oleh manusia dan yang dibukakan baginya justru yang kedua. Allah telah membukakan kehendak-Nya yang layak untuk diketahui manusia, sebagaimana telah ia nyatakan kepada Abraham, Nuh, Musa, samapi kepada kita di masa sekarang ini. Semuanya telah disaksikan dan ditulis di dalam Alkitab. Manusia hanya tinggal membaca, mendengar, mengerti dan melakukannya. Dengan demikian, melihat kehendak Allah menjadi sesuatu yang mungkin, bahkan lebih mudah. Hanya tinggal membaca firman, merenungkan, lalu melakukannya. Meskipun memang tidak semudah yang dapat dikatakan, Karena butuh ketekunan untuk menggal dan merenungkan seumur hidup kita.

Apa kehendak Allah bagi Manusia???
Alkitab sebenarnya menyebutkan sejumlah besar hal-hal yang dikehendaki Allah untuk diketahui dan diperbuat oleh umat-Nya. Contoh jelasnya seperti Allah yang meminta Nuh membuatkan bahtera, memanggil Abraham untuk mengembara menuju Tanah Terjanji, meminta Musa memimpin Israel keluar dari Mesir, memanggil Israel untuk beribadah kepada Allah, dan lain sebagainya. Pada kesempatan ini, Saya hendak mengajak kita untuk mendalami kehendak Allah bagi kita berdasarkan firman Tuhan dalam Roma 12:1-2:

1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Pada bagian terakhir ayat kedua Paulus menegaskan “... manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. Di sini Paulus menyebutkan karakteristik kehendak Allah sebagai sesuai yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Hanya Paulus tidak menyebutkan bentuk konkrit kehendak Allah itu sendiri. Namun demikian, kita dapat menelusurinya pada bagian lain tulisannya dalam 1 Timotius 2:3-4:

"Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran."

Di sini Paulus menyebutkan dengan jelas apa yang dimaksudkannya dengan yang baik dan yang berkenan kepada Allah, yaitu (1) supaya semua orang diselamatkan dan (2) semua orang memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Memang amatlah benar bahwa kehendak Allah yang paling hakiki bagi manusia ialah supaya semua orang ciptaan-Nya dapat memperoleh keselamatan. Inilah keinginan terbesar Allah bagi manusia, agar jangan satupun ciptaan-Nya yang binasa sia-sia. Untuk mewujudkan kehendaknya itu Allah berulangkali telah mengingatkan umat-Nya di setiap tempat dan masa untuk bertobat. Ia juga melepaskan mereka dari berbagai jenis dan bentuk ancaman hidup yang membahayakan. Dan, yang paling menakjubkan, demi menyelamatkan manusia, Ia telah rela untuk turun ke dalam dunia, hidup bersama manusia, menderita dan mati untuk menebus manusia dari penjara dosa dan maut. Untuk itu, Allah meminta agar manusia memperoleh pengetahuan akan kebenaran itu. Manusia diminta untuk menyadari dan mendalami kebenaran itu, agar sungguh-sungguh mampu merespon kehendak Allah itu dengan iman yang teguh dan hidup yang kudus.

Lalu apa maksudnya yang sempurna? Saya teringat langsung dengan doa Tuhan Yesus bagi murid-murid-Nya, seperti yang tercatat dalam Yohanes 17:23: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Kesempurnaan yang dimaksudan Tuhan Yesus ialah kesempurnaan dalam hubungan. Allah di dalam Yesus menghendaki supaya murid-murid-Nya memiliki hubungan yang sangat intim dengan Allah. Hubungan yang intim ini diibaratkan hubungan harmonis antara anak dengan bapanya. Artinya, Allah menghendaki terciptanya relasi dan komunikasi yang harmonis antara manusia dengan Allah: “Aku menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat-Ku, Aku menjadi Bapa mereka dan mereka menjadi anak-anak-Ku”. Relasi dan komunikasi ini diwarnai dengan ketekunan beribadah, berdoa dan keterlibatan Allah di dalam setiap gerak dan langkah kehidupan kita. Demikianlah menurut Yesus kesempurnaan itu tercapai: Aku di dalam mereka dan mereka di dalam Aku sama seperti Aku di dalam Engkau dan Engkau di dalam Aku.

Kesempurnaan yang dimaksudkan Yesus juga termasuk kesempurnaan dalam mengasihi. Orang-orang yang termasuk bagian dalam diri kita tentu saja adalah orang-orang yang kita kasihi. Demikian pula sebaliknya, orang-orang yang kita kasihi telah menjadi bagian dari diri kita sendiri. Demikianlah Allah meminta, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37, 39). Rasanya hidup beriman kita menjadi sangat lebih mudah setelah mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita. Kita hanya tinggal mengimani dengan sungguh-sungguh bahwa Allah mau kita selamat dan menjadi satu dengan diri-Nya. Kita hanya tinggal menjalani hidup yang penuh kasih kepada Allah dan kepada sesama. Dan, kita hanya tinggal menjalani hidup yang layak dan kudus di hadapan Tuhan. Hanya itu. Cukup. Allah tidak minta macam-macam. Tidak meminta kita mesti cantik, tampan, kaya, berkuasa, jenius ataupun bertapa sampai mati. Ia hanya mengendaki supaya (1) kita selamat, (2) memperoleh pengetahuan akan kebenaran (3) menjadi satu dengan Allah, dan (4) hidup dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama. Hanya pertanyaan terakhir ialah: Bagaimana bisa mencapai semuanya ?

Mengetahui dan Hidup dalam Kehendak Allah
Tidak ada jalan pintas untuk mengetahui ataupun berjalan dalam kehendak Allah. Butuh waktu dan proses. Seperti seorang murid yang ingin mengetahui kehendak gurunya dan menjadi sama seperti dia, harus terlebih dahulu bersedia berproses dengan tekun sambil belajar dan berusaha. Demikian pula kita, harus bersedia berproses dengan tekun sambil terus belajar dan mengubah diri. Dalam Roma 12:1-2 tadi, Paulus memberikan langkah-langkah praktis agar kita mampu mengetahui kebenaran kehendak Allah dan hidup di dalamnya. Dengan memperhatikan setiap kata kerja dalam ayat itu, Paulus mengajarkan 3 langkah utama:

1. Parastesai, dari akar kata paristemi. Dalam Alkitab LAI diterjemahkan dengan mempersembahkan.’ Orang-orang yang ingin mengetahui kehendak Allah adalah orang-orang yang mempersembahkan hidupnya terlebih dahulu kepada Allah. Murid yang ingin mengetahui kehendak gurunya, mestilah memberikan seluruh hidupnya untuk itu: memberikan diri, waktu, tenaga, perhatian, bahkan segala hal yang dia miliki. Mempersembahkan diri menjadi syarat pertama untuk mengetahui kehendak Allah, yang menandakan kita siap untuk belajar, menerima dan merespon dengan sungguh-sungguh apa pun kehendak Allah yang dibukakan untuk bagi diri kita. Mempersembahkan diri adalah juga keputusan awal yang mesti kita buat, agar mampu berjalan dalam setiap kehendak Allah bagi diri kita. Jadi, dengan mempersembahkan diri, kita tidak saja dimampukan untuk mengetahui dan memahami, tetapi juga untuk menjalani dan menghidupi setiap kehendak Allah itu.

2. Suschematizo. diterjemahkan dengan ‘menjadi serupa’. Kata ini lebih cocok diterjemahkan ‘mencocokan diri’ dengan pola hidup zaman ini. Rasul Paulus menasehatkan jemaat di Roma untuk berhenti berusaha untuk terus-menerus mencocokan diri dengan pola zaman. Karena pola zaman ditandai dengan kecenderungan berbuat dosa yang begitu hebat. Ini adalah tahap kedua untuk mengerti kehendak Allah. Berhenti mengikuti keinginan ilah zaman ini dan tidak mengikuti pola hidup yang berdosa. Hal ini bukan berarti kita harus lari dan menghindar dari dunia ini, tetapi berhenti berbuat dosa dan melanggar kehendak Allah. Dunia suka dan gandrung melakukan dosa dan melanggar hukum-hukum Allah, itulah yang harus kita hindari, jauhi dan lawan, agar kita semakin dekat dengan Allah dan mampu mendengar serta memahami setiap suara kehendak-Nya.

3. Metamorphoo. Kata kerja ini diterjemahkan dengan ‘berubahlah’ atau bertransformasilah. Transformasi ini adalah pembaruan pikiran dan cara pandang kita; yaitu pembaharuan dari pikiran yang dikuasai oleh dosa dan kepentingan dunia, dari kebiasaan menghakimi, dari niat jahat dan akal bulus serta dari setiap perasaan-perasaan yang ditekan oleh dosa. Roh Kudus mengajar dan mengubahkan kita melalui firman yang kita gali dan renungkan. Karena, kata Paulus, setiap firman yang kit abaca dan renungkan bermanfaat “Untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebebnaran” (2 Tim 3:16). Jadi, bukan hanya berhenti mencocokan diri, kemudian lari dan menghindar dari kenyataan dunia yang berdosa ini, melainkan melihat pembaruan yang terjadi dan mengubah arah dari pola zaman yang berdosa ini, di bawa kembali kepada arah yang sejati, kepada Allah dan kehendak-Nya. Dengan beginilah kita dapat membedakan manakah kehendak Allah dan mana yang bukan: yaitu yang baik, berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Penutup
Pada akhirnya, keputusan untuk menjalani hidup ini kembali Allah berikan kepada kita masing-masing. Apakah kita mau berjalan menurut kehendak Tuhan, ataukah kita akan berjalan menurut kehendak kita sendiri, ataukah kita akan berjalan menurut pola hidup dunia ini, kita sendirilah yang menentukannya. Hanya, bagi murid Kristus dan Anak Allah yang mahatinggi, pilihan satu-satunya ialah berjalan menurut kehendak Allah. Akhirnya, sangat menarik mengamati dengan saksama apa yang pernah dikatakan oleh Billy Graham mengenai usaha mengetahui kehendak Allah. Berikut ia katakan: "Mengetahui kehendak Allah adalah hikmat yang tertinggi. Hidup di dalam pusat kehendak Allah akan memastikan ketulusan pelayanan kita kepada Allah. Anda akan banyak mengalami banyak kesulitan bila berada di luar kehendak-Nya, tetapi hati Anda akan penuh sejahtera walaupun berkekurangan asalkan Anda ada dalam kehendak Allah. Anda tenang sejahtera, walaupun ada di dalam kesulitan atau aniaya, selama Anda ada dalam kehendak Allah. Alkitab menyatakan bahwa Allah memiliki rencana untuk setiap kita dan akan memimpin kita menggenapi rencana tersebut, asal kita tetap bersekutu dengan Dia."

No comments:

Post a Comment

Sabe Satta Bhavantu Shukitatta