Tuesday, March 3, 2009

Berjalan Di Dalam Kebenaran Tuhan

Kej 9:8-17 ; Mrk 1:9-15

Pengantar
Teolog Stephen R. Covey, mengadaptasi pandangan Mahatma Gandhi, mengungkapkan bahwa ada tujuh dosa maut yang merusak tatanan masyarakat saat ini: (1) kekayaan tanpa usaha, (2) kesenangan tanpa nurani, (3) pengetahuan tanpa karakter, (4) bisnis tanpa moralitas, (5) sains tanpa nilai kemanusiaan, (6) agama tanpa pengorbanan, (7) politik tanpa prinsip keadilan.

Mana di antaranya yang dekat dengan kita? Ketujuh dosa maut ini sebenarnya bermuara pada satu hal saja, yaitu ketiadaan kebenaran. Kita bisa mengamati itu, bagaimana tanpa nilai kebenaran bisnis dijalankan dengan cara-cara yang curang, tidak jujur, ilegal; tanpa nilai kebenaran pengetahuan menjadi bahaya besar dengan ancaman perang nuklir, terorisme dengan senjata canggih, tayangan media yang tidak mendidik; tanpa kebenaran politik menjadi ajang pertengkaran dan perebutan kekuasaan semata; tanpa kebenaran agama menjadi kendaraan untuk melegalkan kekerasan, dsb. Singkatnya tanpa kebenaran, kata Thomas Hobbes (antropolog Kristen): Homo Homini Lupus, manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Manusia hidup demi dirinya sendiri, demi keuntungannya sendiri dan tega menyakiti orang lain demi keuntungan pribadi.

Konteks Pergumulan Manusia
Saya membayangkan bahwa kondisi seperti inilah yang ditemui Allah ketika ia menilik kehidupan masyarakat zaman Nuh. Dalam Kej 6:11-12 kita baca di sana, “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah telah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.” Gambaran ini mirip dengan apa yang Allah temui di Kota Sodom dan Gomora. Manusia hidup dengan sifat yang sudah bobrok, mencari kesenangan dan kepentingan diri sendiri, memelihara kecemaran dan menjadi serigala bagi sesamanya. Sampe jeruk makan jeruk.


Beberapa waktu lalu terjadi kecelakaan tragis di Cina, yang menewaskan belasan orang penumpang termasuk seorang wanita cantik yang adalah sopir bis tersebut. Apa sebabnya? Kejadian ini berawal ketika 3 preman yang menggoda dan melecehkan sopir wanita tadi. Sementara itu penumpang tidak sedikit pun peduli atau berusaha membantu. Hati nurani mereka seakan tertutup rapat untuk membela kebenaran. Kecuali seorang pria yang berani berkelahi dengan preman-preman itu, sekalipun ia akhirnya babak belur dihajar ketiga preman itu.


Tentu saja kita merasa bahwa jika dibiarkan situasi ini akan semakin kacau dan merusak. Orang berlaku sesuka hati, seenak jidat dan tidak peduli pada nilai-nilai ilahi. Kondisi ini jugalah yang mendorong Tuhan untuk membersihkan bumi ini dari orang-orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, kesenangan dan kepentingannya sendiri.


Sakit hati dengan sikap penumpang lain yang cuek, tiba-tiba si sopir wanita berteriak mengusir pria yang membelanya,lalu memaksanya turun. Pria itu pun terpaksa turun setelah diancam. Sopir tersebut kemudian mengemudikan bis dengan kecepatan sangat tinggi dan di tengah jalan ia menghempaskan bis itu ke jurang curam hingga menewaskan seluruh penumpangnya. Keesokan harinya berbagai media mengabarkan kecelakaan tragis itu. Dan pria tadi menyadari bahwa sebenarnya ia diselamatkan oleh sopir tadi karena keberaniannya membela kebenaran.

Maksud Baik Allah Dalam Peristiwa Nuh
Sepintas mungkin kita melihat wajah Allah yang marah, dendam dan sadis dalam kisah ini? Akan tetapi, kita harus kritis bertanya, benarkah semua ini terjadi semata karena amarah dan murka Allah? Istilah yang tepat untuk menjelaskan perbuatan Allah ini ialah tindakan pemurnian. Allah memurnikan bumi dan segala isinya. Allah hendak membuat kembali bumi ini baik adanya dengan dihuni oleh orang-orang baik yang mengenal-Nya. Seperti emas yang dimurnikan, dia dipisahkan dari materi-materi yang tidak berguna. Seperti pohon yang dibersihkan, dia dipisahkan dari benalu-benalu yang merusak. Seperti beras yang ditampi, yang dipisahkan dari benih-benih yang kosong. Demikian pula Allah memurnikan dunia ini dengan memisahkan orang-orang yang berjalan dalam kebenaran-Nya dengan orang-orang murtad, yang tidak lagi mau mendengar dan menaati suara-Nya


Tujuan baik Allah sangat jelas. Setelah semua itu terjadi, Allah mengadakan perjanjian dengan hamba-Nya yang setia. Allah menaruh busur-Nya di langit sebagai sebuah tanda perjanjian bahwa Ia tidak akan lagi melakukan hal yang sama bagi dunia. Busur melambangkan suasana perang dan digunakan sebagai senjata untuk membunuh. Ketika Allah meletakkan busur-Nya, sesungguhnya Ia sendiri sedang berjanji untuk memelihara bumi ini demi keselamatan, bukan demi kebinasaan, demi harapan baru, hidup baru di bumi baru yang telah dibaharui oleh tangan Allah.

Yang Istimewa Dalam Diri Manusia
Menarik untuk bertanya, apa sih yang membuat Nuh begitu istimewa bagi Allah? Jawabannya kita temukan dalam Kej 6:9 dikatakan bahwa “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” Nuh begitu istimewa bagi Allah karena tiga hal ini: (1) Seorang yang benar (memegang kebenaran Allah), (2) hidup bergaul dengan Allah, (3) hidup tidak bercela (memelihara kebenaran Allah itu). Kita sendiri perlu bertanya, “apa yang membuat kita istimewa di hadapan Allah?”



Suatu kali, seorang anak kecil tersesat di tengah hutan. Tiba-tiba ia bertemu dengan seekor beruang besar. Sekejap si anak dikuasai ketakutan dan perasaaan panas dingin. Dalam ketakutan itu ternyata si kecil masih ingat Tuhan, dan berdoalah dia dalam ketakutannya memohon keselamatan. Anehnya, si beruang itu terdiam tanpa gerak. Si kecil bangga dan meras aman, lalu mendekati beruang itu. Ternyata si beruang juga sedang berdoa katanya, "Ya Tuhan, berkatilah makanan ini. Amin!” Lanjutin sendiri ceritanya yach.


Akan tetapi, yang Saya mau kemukakan di sini ialah bahwa kita seringkali merasa cukup hanya ketika kita telah berdoa, cukup dengan saat teduh, cukup dengan bergereja, cukup dengan menyanyi, cukup dengan beramal. Sementara waktu-waktu lain kita pakai untuk kepentingan diri kita sendiri.


Yang membuat Tuhan Yesus istimewa adalah ketaatan-Nya kepada Allah. Karena ketaatan-Nya, Allah kemudian meneguhkan-Nya sebagai anak yang dikasihi. Pada saat ia dibaptiskan Allah berkata, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Peneguhan sebagai Anak Allah tidak lantas mengubah ketaatan-Nya menjadi sebuah kesombongan. Berbeda dengan manusia yang setelah mendapatkan posisi sentral kemudian menjadi lupa diri. Setelah dilantik berubah menjadi diktator dan penindas. Akan tetapi Tuhan Yesus tidak demikian. Ketika Ia menghadapi pencobaan di padang gurun, Ia tetap berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Ia selalu dekat dengan Allah. Ia merenungkan kebenaran firman-Nya dan berjalan di dalam-Nya. Dan kekuatan Firman itulah yang menjadi senjata ampuhnya dalam melawan setiap godaan yang ditawarkan Iblis kepada-Nya.


Yesus tidak memilih kepentingan perut sendiri, melainkan memilih untuk taat. Sekalipun para malaikat siap menatang-Nya, namun Ia tidak memilih popularitas pribadi, melainkan memilih untuk tetap melayani Allah. Sekalipun mudah bagi-Nya mendapatkan seluruh kuasa dan kekayaan duniawi, namun ia lebih memilih jalan salib untuk menyelamatkan manusia.

Aplikasi
Bagaimana dengan kita? Menyuarakan dan berjalan dalam kebenaran di tengah kultur kehidupan yang semakin individualistis dan materialistis seperti saat ini, tentu saja mendapatkan tantangan cukup berat. Kalau kata pak Rigi, yang kita hadapi bukanlah manusia-manusia biasa, tetapi serigala-serigala buas. Seperti yang dihadapi Nuh, Tuhan Yesus dan para murid yang setia. Akan tetapi, justru di situlah Allah memanggil kita untuk menjadi Alter Kristi, Kristus-kristus yang lain. Yakni belajar meniru ketaatan dan kasih-Nya kepada Allah.



Selama kita meneguhkan hati untuk berjalan dalam nilai-nilai Allah, kebenaran Allah, kita percaya bahwa busur Allah selalu ada di atas kita, memelihara dan melindungi kita. Untuk itu, mari beri diri kita dipimpin oleh Roh Kudus, sebab di dalamnya ada kekuatan dan pertolongan, jawaban dan jalan keluar serta jaminan hidup yang abadi.

No comments:

Post a Comment

Sabe Satta Bhavantu Shukitatta