Wednesday, April 7, 2010

Sebuah Pengamatan Atas Mimbar Gereja

Mimbar merupakan sarana penting sebuah gereja, khususnya dalam seremoni peribadahan. Dalam pengertian paling dangkal, mimbar adalah sebuah tempat. Wujudnya mirip sebuah meja dan letaknya berada terdepan di ruang kebaktian. Artinya, mimbar adalah pusat tata ruang ibadah. Mimbar menjadi tempat para pelayan gereja menyapa dan berintraksi dengan jemaat.

Akan tetapi, tentu saja pengertian kita tidak akan sedangkal itu, karena sesungguhnya mimbar mewakili banyak hal. Mimbar merupakan manifestasi keilahian Allah. Mimbar merupakan tempat Allah berjumpa dan bergaul dengan umat-Nya. Mimbar adalah ruang Allah berbicara dan mengajar. Mimbar adalah juga wujud lain dari hamba-hamba-Nya, yakni mereka yang mendapat tugas sebagai pelayan-pelayan mimbar-Nya. Itulah sebabnya mimbar sepatutnya ditata, dikelola dan dihadirkan secara istimewa pula.

Mimbar selalu menjadi fokus utama tata ruang ibadah. Posisinya lebih tinggi dari kursi jemaat. Biasanya ditata dengan sangat istimewa, melebihi bagian manapun dalam ruang peribadahan. Bentuknya pun pastilah unik, indah dan menarik.

Kalau sedikit memberanikan diri berkeliling lintas gedung gereja, siapapun akan kagum menyaksikan kekayaan mimbar ini. Ukurannya variatif. Modelnya sangat beragam, melebihi tipe handphone merk manapun. Ukirannya mengikuti peradaban, mulai dari yang tersederhana sampai yang sangat tinggi kedudukan artistiknya. Posisinya pun berkasta, mulai dari yang terendah tanpa undakan, sampai yang paling tinggi dengan tangga beranak tujuh. Yang pasti ditemukan di mana-mana, mimbar selalu memiliki jarak minimal 2 meter dari kursi jemaat. Lainnya mungkin sejauh posisi tendangan penalti pada lapangan sepakbola.

Model dan posisi mimbar ini bukannya tidak menghadirkan dampak pada pelayanan gereja, khususnya bagi pelayan firman dan pelayanan firman. Kita bisa menyebutkan beberapa contoh sederhana. Posisi mimbar yang terlalu jauh akan membuat pengkhotbah terasing seorang diri. Bentuk mimbar yang terlalu tinggi akan membatasi gerak pengkhotbah berinteraksi dengan jemaat. Ia jauh dari dan di atas jemaat, seperti raja di tahta dengan rakyat di ujung pandangannya. Tentu itu menyukarkan proses berdialog. Menjadi beban dalam interaksi. Dari pengalaman, perihal ini membuat enggan untuk bertanya dan segan pula untuk meminta pendapat umat.

Akibatnya, pengkhotbah tidak ada ubahnya dengan seorang pencerita. Berbicara sendiri. Bercerita sendiri. Bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri pula. Puji Tuhan jikalau renungannya berisi ditambah variatif dengan ilustrasi dan gerak yang tepat dan hidup. Akan tetapi menjadi persoalan jika khotbah begitu biasa, apalagi dengan suara dan olah tubuh yang amat datar. Itu seperti makan roti tawar setiap hari. Atau mendengar ocehan iklan tak berisi selama setengah jam atau lebih. Tidak kaya rasa. Begitu membosankan. Bagi Saya, ini juga pengalaman buruk.

Itulah sebabnya penataan dan pengolahan mimbar menjadi sangat penting. Sebagai masukan paling awal, perhatikanlah mimbar gereja saudara. Amati jarak, posisi, ukuran, model dan aksesorisnya. Gereja bukanlah istana dan mimbar bukanlah tahta seperti milik ratu Inggris, sehingga tidak perlu tinggi dan begitu mewah. Mimbar itu harus bersahaja dalam kesederhanaannya, sehingga memungkinkan siapapun melihatnya dengan ketulusan, keteduhan dan ketertarikan yang kuat untuk duduk diam dan berefleksi. Tidak banyak yang memahami ini, tetapi mimbar haruslah seperti ruang doa untuk umat sendiri, yang di dalamnya tidak ada lagi jarak jumpa yang begitu jauh dan suasana kesungkanan yang menghilangkan konsentrasi. Mimbar harus lebih dekat dan merasa dimiliki oleh siapapun.

Akan tetapi, sekali lagi, pengertian kita harus diperluas. Mimbar di sini bukan semata meja besar di depan ruang kebaktian. Mimbar adalah juga manifestasi Allah dan pemimpin jemaat, ruang perjumpaan dan wadah proses mengajar-belajar dengan Firman Allah sebagai materi dasarnya. Dengan demikian, yang harus didekatkan ke posisi jemaat tidak hanya mimbar dalam arti bendawinya, tetapi juga wujud pribadi pengelolanya dan manifestasi Allah di dalamnya.

No comments:

Post a Comment

Sabe Satta Bhavantu Shukitatta