Wednesday, April 7, 2010

Mimbar dan Manifestasi Allah

Dengan keberanian besar kita dapat berkata bahwa mimbar adalah manifastasi sederhana kepribadian Allah. Mimbar itu istimewa karena Allah istimewa di dalamnya. Mimbar itu menjadi kudus karena Allah hadir membuatnya demikian. Mimbar itu pusat peribadahan karena disadari Allah turun dan berkuasa di situ.

Kalau kata-kata ini terlalu keras, mungkin kita sederhanakan dengan mengakui bahwa mimbar adalah simbol kehadiran Allah. Setiap kali kita menatap mimbar, kita seperti berjumpa dengan Allah. Kita seolah bertemu kekasih jiwa, di Taman Impian Jaya Asih. Kita penasaran dan menanti. Kita rindu bertemu dan disapa dengan hikmatnya. Ketika ia bersuara, kita terdiam. Kita mulai terpana, lalu tertunduk seketika. Dalam sekejap bisa saja kita disulapnya dengan senyuman. Lalu kita mulai tersentuh dan menjadi bahagia. Itulah yang bisa terjadi ketika Allah sudah hadir menemui kita melalui mimbarnya, baik dalam pemberitaan firman maupun pelayan-Nya.

Semua itu pengalaman terindah bukan? Siapapun pasti rindu merasakannya lagi.

Kalau kita bantah sedikit mungkin ada gunanya. Bukankah tidak semua mimbar terasa demikian? Benar. Memang benar. Ada juga mimbar yang kurang berkharisma sama sekali. Keanggunan kekasih berkurang akibat kejauhan tatapan mata. Dari jauh, senyum pun bahkan tersembunyi. Demikian pula dengan binar-binar mata, tidak terlihat. Untuk itu, kita perlu berdekatan. Baiknya bertatapan. Dengan demikian, masing-masing lebih merasakan indahnya keintiman perjumpaan. Ketika kita mendekat, lalu Allah pun melangkah maju, di situlah keintiman itu menjadi milik kita.

Oleh karena itu, mimbar yang adalah manifestasi Allah itu haruslah didorong sedemikian dekatnya dengan jemaat. Jangan menata mimbar jauh dari tempat duduk jemaat, atau bagaikan menonton sepakbola dari sudut terujung stadion pertandingan. Jemaat bukan penonton, yang tidak ada kaitannya dalam perjumpaan pertandingan. Mereka juga bukan ‘nyamuk’ dalam istilah berpacaran, sehingga dapat diabaikan. Mereka kekasih. Jadi tempatkan mereka sedekat mungkin dengan Allah. Dorong mimbar sedekat mungkin dengan mereka. Hindari penataan ruang mirip stadion pacuan kuda. Allah tidak berbahaya. Mimbar yang terlalu jauh akan membuat keterasingan. Mimbar yang terlalu tinggi, menggoda hilangnya konsentrasi. Mimbar yang terlalu kecil terasa raib kharismanya. Sebaliknya terlalu besar sulit melihat sudut fokusnya.
Sebagai strategi mendorong perubahan ini, sudahkah mimbar gereja kita mewakili kharisma Allah. Ia anggun sekalipun tidak mewah. Ia kaya sekalipun tiada hiasan. Ia kudus walau tidak mencolok. Tidak perlu besar yang menelan penunggangya. Jangan pula seadanya seperti tidak terurus sama sekali. Ia harus bersahaja. Ia harus bersahabat, seperti pemiliknya. Yang sangat penting juga, ia harus dekat. Seolah di tengah-tengah kita. Mudah ditatap. Terasa menyapa. Ramah. Dan, Ia menghadirkan kepribadian Allah. Demikianlah jemaat akan lebih belajar betapa Allah mengasihi dan selalu ada untuk umat-Nya.

No comments:

Post a Comment

Sabe Satta Bhavantu Shukitatta