Manifestasi Allah di mimbar gereja terlebih berbobot melalui pelayanan firman. Firman yang kita dimaksud mencakup bagian Alkitab yang dibacakan dan dijabarkan, juga kebenaran yang Allah nyatakan sendiri di dalam hati umat yang dikenan-Nya. Tentu saja begitu, karena kita tidak dapat membatasi kebenaran Tuhan, apalagi hanya pada apa yang tertulis. Kebenaran Allah bertebaran di mana-mana dalam hidup manusia dan dinyatakan kepada siapapun yang dilayakkan untuk menerimanya.
Mimbar adalah ruang khusus Allah berbicara verbal kepada manusia. Ia berbicara melalui hamba-hamba-Nya. Di dalam pemberitaan firman itu Allah dan sejarah-Nya dengan konsisten dinyatakan. Kisah-kisah-Nya terus dibacakan. Perbuatan ajaib-Nya lagi-lagi diceritakan. Nasehat dan janji-janji-Nya tiada henti dikumandangkan. Tepat sekali, seperti pahlawan yang gagah perkasa dan penuh welas asih Ia terus dibicarakan dan dinantikan.
Tujuan pemberitaan firman itu tentu saja mulia. Melalui pemberitaan itu kisah Allah dapat dipahami dan perbuatan-Nya dialami. Nasehatnya memberi inspirasi dan janji-janji-Nya menghembuskan harapan baru bagi umat di sepanjang masa. Pemberitaan firman diharapkan akan sungguh mempertemukan umat dengan Tuhan, tidak saja dalam pemahaman yang benar, tetapi juga dalam pengalaman hidup yang terus segar. Firman Allah itu pada akhirnya harus membarui seluruh aspek hidup jemaat, sehingga tercapai tujuan puncak yang diharapkan Tuhan Yesus: ”Aku di dalam kamu dan kamu di dalam Aku, seperti Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14:20).
Akan tetapi, sebuah cerita, kisah atau kata-kata bijak tidak memberi dampak dengan sendirinya. Sebuah kisah di kepala akan menginspirasi jika dibahasakan dengan baik. Cerpen yang digemari selalu dikalimatkan dengan menarik. Kata-kata bijak akan maksimal sentuhannya jika dibawakan dengan tepat, yakni dengan mempertimbangkan banyak hal seperti cara, situasi, tujuan dan kebutuhan yang utama. Demikian pula dalam pewartaan firman Tuhan. Alkitab tidak akan berbicara dengan sendirinya di atas mimbar. Ia harus dibacakan, diperagakan dan dicontohkan agar dapat dipahami umat dengan benar dan mendalam. Dengan begitu, firman Tuhan akan semakin dekat dengan kehidupan jemaat. Inilah artinya mendorong mimbar mendekati kursi kehidupan jemaat.
Pasti pembaca bertanya: Bagaimana firman Tuhan itu dapat sampai kepada pendengarnya dengan utuh? Saya kira sebuah berita tidak dapat diterima secara utuh, karena keterbatasan si pemberita dan si pendengar. Akan tetapi kita dapat mengupayakan maksimalisasi dalam pemberitaan itu, agar sedapatnya tidak banyak yang hilang dari berita itu. Harapan terdalamnya, berita itu tidak hanya sampai tetapi juga mengubah hidup yang menerimanya. Untuk itu perhatikan baik-baik hal berikut ini:
a. Isi beritanya
Hal penting pertama yang harus dimengerti ialah soal isi beritanya. Yang diharapkan istri tentara dari sepucuk surat suaminya ialah berita lengkap tentangnya di medan perang. Kerinduan pasangan yang lama berpisah ialah mengetahui berita sepenuhnya tentang kekasihnya; yakni keadaan, pengalaman dan tentu saja isi hatinya yang terdalam. Demikian pula dalam pemberitaan firman, kita harus mengerti maksud terdalam jemaat datang beribadah di gereja kita.
Pahamilah bahwa kerinduan terbesar jemaat ialah bertemu dengan Tuhan. Harapan mereka ialah melihat Tuhan dan Tuhan melihat diri mereka. Oleh karena itu, dalam pemberitaan firman, Allahlah yang harus menjadi isi intinya. Seorang tukang pos tidak boleh menahan surat di tangannya dan menggantinya dengan kisah hidupnya sendiri. Seorang penginjil pun tidak boleh menggantikan firman Allah dengan kisah hidupnya sendiri. Juga tidak dengan kisah orang lain. Yang ingin didengar jemaat bukanlah ocehan kosong biografi si pengkhotbah ataupun kalimat-kalimat karangan tokoh lain. Itu hanyalah kerupuk dalam menu nasi goreng. Pelengkap semata.
Ketika Tuhan tidak lagi menjadi isi dalam khotbah, perhatikanlah betapa bersarnya masalah yang muncul. Akan terlalu banyak orang yang menyepelekannya. Begitu banyak orang yang mengalihkan perhatian dengan mengetik SMS, menerima panggilan telepon, mengobrol, bersenda gurau, meninggalkan ruang ibadah, tidur, dan sebagainya. Mereka memperlakukan khotbah seperti menonton film di bioskop, terserah disimak atau tidak. Itu terjadi karena mereka tidak bertemu dengan Tuhan sumber hidup mereka. Akibatnya, mereka tidak bertumbuh maju dalam iman, karakter dan nilai-nilai hidup.
Kesalahan terbesar rasanya bukan pada orang yang menyimak, sekalipun ada juga yang keterlaluan. Yang bertanggung jawab ialah pada pihak yang menyampaikan, yang kerap melupakan Tuhan di dalam khotbah mereka. Khotbah masa kini terlalu banyak dikuasai oleh hal-hal fenomenal yang dangkal, mitos-mitos kuno, lelucon yang tidak nyambung, kesaksian yang sangat egosentris dan pesan-pesan personal yang tidak mendarat. Akibatnya Tuhan menjadi hilang dan tidak dijumpai orang mereka yang datang dengan kerinduan besar.
Oleh karena itu, inti berita sebuah khotbah ialah Kristus, Allah yang menyatakan diri dalam pribadi insani. Khotbah harus memuat kisah, kasih, karya dan komitmen pemeliharaan Allah di dalam Yesus yang terus-menerus mengalir. Jika mencontek para pembelajar, maka kalimat tegasnya ialah khotbah itu harus kristosentris. Jemaat harus menemui Yesus di dalam setiap khotbah, meliputi kasih-Nya yang tak terbatas, perjuangannya menyelamatkan dunia, janji dan kuasa pertolongan-Nya dalam pergumulan hidup manusia. Itu yang menghibur, memotivasi dan membaharui hidup jemaat. Itu yang selalu rindu mereka dengar.
b. Metode Pemberitaan
Terus terang saja bahwa berkhotbah itu sama dengan siaran di radio. Keduanya merupakan proses penyampaian berita. Ada si pembawa berita, pesan, dan juga orang yang menerimanya. Perbedaannya tentu saja hanya soal jarak antara si pemberita dan si penerima.
Seperti dalam berkhotbah, siaran radio juga memiliki banyak kendala yang membuat berita tidak sampai kepada penerima yang dimaksud. Selain jarak, teknologi, kondisi cuaca dan si penerima, salah satu penentu keberhasilan pengiriman pesan ada pada pihak si pengirim. Yang sedang kita bicarakan adalah kreativitas teknis si penyiar, yang juga merupakan pergumulan besar bagi banyak sekali pengkhotbah.
Banyak pengkhotbah sering berkata begini:
- Ide sih banyak, tapi gimana ngungkapinnya yach?
- Kok, khotbah tulisanku lebih bagus daripada khotbah di mimbar yach?
- Aduh, nggak puas nih dengan khotbah tadi.
- Jemaat bisa nangkap nggak yach khotbah-khotbahku?
- Gaya orang itu berkhotbah lebih bagus dibanding Saya.
Pergumulan di atas bicara soal cara teknis pemberitaan. Orang yang mengabaikan pentingnya metode berarti sedang membiarkan usahanya memperoleh skor minimal. Jika pesan itu begitu penting, segala hal akan kita lakukan bukan? Itu yang saya maksud di dalam berkhotbah ini. Untuk membuat jemaat mengerti Kebenaran Firman Tuhan, kita harus melakukan segala sesuatu. Kita harus belajar seperti di sebuah ruang Teater: melompat, berteriak, menangis, berdiam diri, tertawa, berjalan, atau marah jika perlu. Tidak lagi cukup hanya dengan sebuah kisah dan umpama. Kita harus berani membawa batu, pohon, boneka, ember, kayu, buku, atau laptop jika perlu. Semua demi Firman Tuhan.
Jangan dulu mengernyitkan kening. Yang Saya maksud kita tidak sedang merendahkan firman Tuhan. Ini juga bukan usaha mempermainkan, meremehkan, menduniawikan atau mengkomersialisasikan kebenaran Tuhan. Tetapi kita harus berpikir keras bagaimana agar jemaat betul-betul mudeng dengan apa yang kita bicarakan tentang firman itu. Kita harus membuatnya mudah ditangkap, diolah dan dimengerti dalam hati. kita harus membuatnya seperti terpatri, melekat, membekas dan mengubah bagian yang rusak. Kita pun jangan lagi geli terhadap teknologi, dengan menolak mempelajarinya. Sebaliknya, sadarlah bahwa dunia yang tanpa tampilan teknologis sudah ditinggalkan penggemarnya, bahkan sejak puluhan tahun lalu.
c. Aktualitas Kebutuhan
Segala sesuatu harus relevan, sebab jika tidak sebaiknya dikubur saja. Memang demikian, bahwa yang tidak berguna selayaknya dibuang saja dari gudang kehidupan kita. Maksud saya, jangan sekali-kali mengkhotbahkan sesuatu yang tidak memiliki relevansi dengan kehidupan jemaat, agar kemudian tidak ditertawakan dan diabaikan. Jangan membuat firman Tuhan menjadi sia-sia, dengan tidak menyentuh kehidupan dan kebutuhan-kebutuhan jemaat.
Di sini kita tidak sedang menyalahkan Alkitab yang sejauh ini tidak bisa dikurangi atau ditambah, tetapi kita harus lebih tajam melihat pertalian firman Allah dengan kehidupan sehari-hari. Kita tahu bahwa tidak sembarangan Alkitab tertulis demikian, melainkan ada kehendak Allah di setiap bagiannya yang penting artinya bagi kehidupan jemaat.
Mengapa khotbah sering direspon “terlalu tinggi, kurang mendarat, mengawang-awang, sangat basa-basi, atau terlalu Alkitabiah”? Bisa saja bagian a dan b sudah terpenuhi, tetapi c tidak ada muatannya. Khotbah bisa sudah Alkitabiah dan komunikatif, bahkan atraktif, tetapi belum menjadi milik jemaat. Jemaat tidak merasa firman itu untuknya, karena tidak bertalian dengan kebutuhan terdalam di hatinya. Jika semua orang merasa demikian, berarti kita telah mencapai titik kegagalan serius. Kita gagal memahami keutamaan maksud firman Tuhan dan kedalaman isi hati jemaat.
Untuk menghindari kejadian buruk ini, diperlukan ketajaman mata dalam memahami persoalan-persoalan harian jemaat. Orang awam pun mengerti hal ini sehingga mereka selalu mendorong “rajin berkunjung, biar tahu masalah-masalah jemaat yang harus ditolong”. Interaksi yang tinggi dengan jemaat memang sangat menolong, baik bagi si pengkhotbah maupun bagi pendengarnya. Bagi pengkhotbah itu penting untuk mendaratkan khotbahnya di landasan yang tepat. Bagi pendengarnya, itu berarti menerima kiriman bantuan rohani yang tepat saat krisis bencana melanda kehidupan ini.
No comments:
Post a Comment